:: RYUZANJI COMPANY ::

This slideshow requires JavaScript.

Didirikan oleh Show Ryuzanji pada tahun 1984, adalah kelompok perencana teater yang sebelumnya mendirikan Engeki Dan(korps Teater) pada tahun 1970. Penggalangan lintas teater adalah tujuan mereka yang dimainkan dari teater skala kecil dan sebagai perintis pertunjukan produce saat ini. Selain itu, Ryuzanji Company juga aktif mendorong pertunjukan teater internasional termasuk penerimaan siswa dari luar negeri. Aktifitas mereka saat ini adalah mencari kemungkinan ekpresi panggung dengan berbagai genre mulai dari Kabuki, Shakespeare, sampai karya eksperimental untuk menuju ‘cakrawala teater dunia.’

Founded by Show Ryuzanji in 1984, is a group of planners who previously founded the theater Engeki And (corps Theatre) in 1970. Cross-boosting theater played their goal of small-scale theatrical performances and as a pioneer Generate today. In addition, the Company also actively encourages Ryuzanji international theatrical performances, including the admission of students from abroad. Their current activities is to look for possible expression of the stage with a variety of genres ranging from Kabuki and Shakespeare experimental work to get to the horizon ‘theater world. “

Dua repertoar yang berlatar belakang cinta dan kematian sangat kental sekali dalam pertunjukan mereka di Rumah Budaya Tembi dalam acara Apresiasi Rumah Budaya Tembi 2011 dari tanggal 15 Juli-17 juli 2011. Repertoar berjudul ‘Hanafuda Denki’ dengan latar belakang sebuah perusahaan upacara pemakaman yang disebut rumah kematian menjadi cerita yang menarik ketika cinta menjadi salah satu konflik di cerita tersebut. Perpindahan antar dimensi kematian dan kehidupan juga semakin menambah bobot pertunjukan tersebut. Sedangkan repertoar yang berjudul Sotoba Komachi masih ada kemiripan dalam ide cerita hanya alurnya dibikin meloncat-loncat dari jaman modern menuju ke masa lampau.  Barangkali bagi Teater Ryuzanji co bermain-main dengan dimensi waktu, alam, masa lalu, atau masa kini seolah-olah menjadi sikap mereka untuk memahami perjalanan waktu itu sendiri sekaligus memaknainya bukan sekedar catatan sejarah hidup, melainkan pemberontakan terhadap identitas mereka sendiri.

Two background repertoire of love and death are very strong in their appearance at the House of Culture in Tembi Appreciation event Tembi Cultural House in 2011 from 15 July to 17 July 2011. Repertoire titled ‘Hanafuda Denki’ against the background of a company called the death a funeral home has become a very interesting story when love becomes one of conflict in the story. Switching between dimensions of death and life also increases the weight of the show. While the repertoire titled Sotoba Komachi still there are similarities in the storyline contrived idea of ​​just jumping up and down from the modern era into the past. Perhaps to play around with Theatre Ryuzanji with dimensions of time, nature, past, present or as if into their attitudes to understand the passage of time itself and make sense of life not only made history, but revolt against their own identity.

Advertisements

Jagongan wagen

mencari celah sekecil mungkin untuk mengekplorasi tubuh dan menghargai betapa sebuah gerakan kecil mampu menghipnotis penonton. Sebuah koreografi gerak yang mengambil inspirasi dari kehidupan sehari-hari….so….cocok untuk menambah referensi kita dalam memaknai gerak tubuh dalam sebuah tarian

HOMAGE

G. sidharta Soegijo dalam Seni Rupa Indonesia

YOGYAKARTA NASIONAL MUSEUM, 22 JANUARI s/d 05 FEBRUARI 2010

Pameran ini menampilkan karya-karya yang dianggap bisa mewakili beberapa tonggak pencapaian artistik .G Sidharta, dan tentunya tak semua karya yang pernah dikerjakannya bisa ditampung pada pameran kali ini. Pokok penting yang hendak disasar pada pameran kali ini juga soal peringatan 1000 hari meninggalnya beliau, ihwal memaknai kenangan kerja keras yang dilakukan seorang seniman. Selebihnya, kita berharap : mudah-mudahan bisa mengambil pelajaran dan manfaat dari pergulatan kreatif sosok Gregorius Sidharta Soegijo. Karya-karya yang dipamerkan adalah lukisan, patung, grafis, dan beberapa dokumen visual karya-karya public yang pernah dikerjakan G. Sidharta selama ia bekerja di Bandung, Yogyakarta, Jakarta maupun di luar negeri. Kawan-kawan seniman di Asosiasi Pematung Indonesia bahkan berinisiatif lebih jauh lagi dengan mengumpulkan dan menata barang-barang serta dokumen pribadi (milik keluarga G. Sidharta) untuk ditunjukkan kepada public seni rupa secara luas. Judul Pameran : “Homage : G. Sidharta Soegijo dalam Seni Rupa Indonesia” jelas adalah ungkapan rasa hormat dan penghargaan dari para seniman yang pernah menjadi sahabat, kawan, ‘lawan’ diskusi, atau murid G. Sidharta, dan tentunya sama sekali tidak bermaksud mengkultuskan atau mengagungkan ihwal sosoknya. “Saya ingin mengaitkan [diri] kembali dengan jalur kehidupan tradisi, disamping sekaligus tetap berdiri di alam kehidupan masa kini, yang berarti satu keinginan untuk menghilangkan

G. sidharta Soegijo dalam Seni Rupa Indonesia

YOGYAKARTA NASIONAL MUSEUM, 22 JANUARI s/d 05 FEBRUARI 2010