Mas Eko

Di kotaku, peristiwa demi peristiwa menguap begitu saja. Betul kawan, aku tidak bohong. Sepanjang perjalanan kakiku melewati lorong-lorong tua, gang-gang kecil yang sesekali menyemprotkan bau pesing berwarna kelabu, aku melihat sketsa buram tanah kelahiranku. Kanak-kanak berlarian telanjang kaki diperempatan jalan mengais rupiah. Tawarkan suara serak dari napasnya yang tersedak asap knalpot bis kota. Kulitnya tak lagi selembut pipi bayi. Bau tubuhnya bukan lagi wangi sabun mandi Kau tahu kawan, mimpi-mimpi mereka hanya bisa merangkak, menepi dipos polisi dan berteduh dari matahari yang terik, kemudian merangkak lagi ketika warna hijau lampu traffic light hinggap dan berpendar dimatanya yang bening.
“Mana sayap kupu-kupu yang dulu tumbuh dibahumu nak?”
“Apakah kau sudah lupa cara mengerakkan sayap kupu-kupumu?”
“Apa kau tidak rindu mengetuk pintu kuncup-kuncup bunga dan bergulingan dikelopaknya yang menggeliat geli hingga seluruh tubuhmu berwana kuning serbuk sari?”
“Dan, “Apa kau masih ingat warna madu bunga melati?
”Aa.. “Tapi kau pasti masih ingat warna pentil mbak Pur kan?” Perempuan setengah baya yang setiap malam tak pernah absen nongkrong dipojok gang belakang bioskop Sanjaya.
Tiba-tiba saja aku seperti dilempar dimasa-masa sulit tahun 1980. Bioskop ini terlalu banyak meninggalkan cerita buram masa kecilku. Lebih tepatnya kelam.
”Maaf, “aku tidak bermaksud hiperbola terhadap bioskop yang sekarang sudah menjadi bangunan tua ini.”
Hanya sesaat aku berhenti dan memandang bioskop itu, lalu kulanjutkan langkah kakiku menuju rumah yang masih berjarak sekitar 500 meter lagi.
”Jangkrik,!!” Aku mengumpat dalam hati.
Kakiku seperti tidak bisa kugerakkan untuk berlalu pergi begitu saja meninggalkan bangunan tua itu. Kelebatan bayangan masa lalu bersliweran muncul dan berlari begitu cepat, hilang, muncul, lalu hilang lagi, muncul, begitu seterusnya. Mas Pace yang mukanya seperti hulk, mbak wien yang setiap setengah jam sekali pergi kepasar, budhe Atun yang asik ngothak-athik barisan angka-angka dan selalu yakin nanti malam nomernya bakal tembus, mak Pujo penjual gorengan plus sambel yang dulu bekas pesinden dan suka bercerita tentang tokoh-tokoh wayang, Menyung, Cahyo, kang Pardi, mas Harno, Agus Kempong,
Aaaahh….
Tubuhku seketika menggigil, urat leherku kaku, aku tidak bisa menelan ludah. Seperti ada sesuatu yang mengganjal begitu besar dikerongkonganku. Nafasku kembang kempis, mataku berkunang-kunang, tulang-tulang sendiku serasa mau copot, lemas. Aku….tiba-tiba sesuatu yang hangat menepuk pundakku pelan. ”Jon,”!__
wuuuuutt….!! seketika hilang semua. “Baru pulang kamu.” Dengan perlahan aku berusaha menoleh, Ma..ma..a…mas Yitno kataku pelan.
“Baru pulang kamu, ucap mas Yitno kembali berusaha menyadarkan lamunanku.”
Iya..Mas, kataku.
Huuuf..! aku menghela nafas pelan. “Terima kasih mas,” ucapku dalam hati.
“Dari Madiun jam berapa Jon” pelan mas Yitno menanyaiku kembali..
“Anu mas, jam 07.45 pagi” kataku datar.
“Lho, ini bukan hari libur to jon? kata mas Yitno kembali.
“Kamu ngambil cuti berapa hari?
A..”nganu mas..”
”Wah…jangan lupa, nanti disempatkan mampir lho, kita borong lagi kolamnya pak lurah cerocos mas Yitno.”
Ya..a..a.. “nanti tak sempatkan mam….
”Lha iya, serobot mas Yitno memotong pembicaraanku.
“Kita itu sudah lama nggak mancing lho jon,” ujar mas Yitno berapi-api.
“Sejak kamu kerja di Madiun, aku nggak punya kawan mancing lagi Jon,” sembari tangannya menepuk-nepuk pundakku senang.
Aku hanya diam saja. Pikiranku tidak konsentrasi dengan omongan mas Yitno. Pandanganku kosong. Hanya kepalaku yang mengangguk-angguk yang ditangkap mas Yitno sebagai tanda menyetujui rencana mborong kolamnya pak lurah.
“Lha, kamu pulang kali ini dalam rangka apae Jon, tanya mas Yitno kembali memecah lamunanku.”
“Mas Eko,”ucapku pelan. Hah..!! mas Yitno terperanjat kaget.
“E.ee..,kamu tau dari mana Jon,”
“mas Eko……”Ya mas.” Mas Eko, ucapku lirih.
Sempat kulirik mas Yitno. Ia seperti salah tingkah. Ada gerakan-gerakan dari tubuhnya yang tidak biasa. Sesaat hening. Hanya suara dengus nafas mas Yitno yang terdengar berat.
“Kalau begitu kamu pulang dulu saja Jon, “kata mas Yitno pelan memecah suasana. “Lagian aku juga mau nengok tegalan dulu karena kemarin habis diserbu tikus, ucap mas Yitno kembali berusaha menetralkan suasana.
”Yo wis Jon, tak niliki tegalan dulu kata mas Yitno bergegas pergi meninggalkanku. “Mas Eko,…..ucapku dalam hati.

Seperti rejeki nomplok, ketika pada suatu hari aku diperkenalkan oleh temanku dengan mas Eko. Rambut gondrong, jago pencak silat, murah senyum, sabar dan yang paling istimewa ternyata mas Eko jago main gitar. Dari pertemuan yang tidak sengaja, akhirnya menjadikan mas Eko sangat spesial bagiku. Dialah orang pertama dan satu-satunya guru yang mengajariku bagaimana bermain gitar secara benar. Jari-jarinya begitu lincah memetik senar. Mas Eko pulalah yang menuntunku lebih dalam untuk mempelajari tentang musik klasik. Aku masih ingat ucapannya dulu padaku.
“Jon,” katanya kepadaku, “kalau kamu benar-benar serius mau belajar musik, kamu harus dari dasar dulu,”
“Belajarlah dari musik klasik. Ya..ini tidak harus sih, hanya saja mumpung kamu masih nol belajar musiknya.”
“Beres mas, ucapku penuh semangat.”
Mengingat mas Eko membuatku ingin mengulang kembali kejaman aku masih SMP, awal dari aku mulai belajar bermain gitar dengan mas Eko. Aku masih ingat, bahkan sangat ingat ketika di beri PR mencari kunci dari lagu Popy Mercury yang berjudul “Antara Jakarta dan Penang, setelah aku dirasa mampu untuk mencari kunci lagu-lagu pop yang pada waktu itu sangat hits.
Mas Eko memang luar biasa ketika jemarinya mulai menari diatas senar gitar. Lagu apa saja dengan sangat mudah disulap menjadi terdengar indah dan merdu. Dari lagu anak-anak sampai dengan lagu kakek-kakek semua dilahap habis dan diaduk lembut melalui jari-jari lentiknya yang memikat. Sampai-sampai mbak Pur yang sesekali ikut nongkrong bareng pernah berkata kepada mas Eko,
“Ko, kalau malam ini sepi kamu mau kan main dengan mbak Pur,” katanya.
“Nggak usah bayar Ko, gratis!
“cukup kamu mainkan dua lagu kesukaanku saja serang mbak Pur waktu itu.
Sebenarnya mbak Pur bukanlah wanita nakal yang memilih melacur menjadi satu-satunya pekerjaan tetap. Toh dirumah mbak pur sering mendapat pesanan bordir baju pengantin. Mbak pur hanyalah satu dari sekian banyak wanita yang mempunyai kelebihan nafsu sex, hingga terpaksa suaminya menceraikannya karena tidak kuat setiap hari harus melayani nafsu birahi mbak Pur. Sampai sekarangpun aku juga masih terpukau ketika membayangkan betapa hebatnya permainan toya mas Eko malam-malam sehabis Isya di lapangan. Gerakan-gerakan yang lembut, tegas dan penuh energi terdengar dari sabetan demi sabetan toyanya yang mengeluarkan suara sangat keras.
Tapi dari semua itu aku paling suka ketika mas Eko bercerita tentang sejarah musik. Apalagi kalau sudah menyinggung tentang tokoh musik dunia, aku dihipnotis oleh cerita mas Eko. Gayanya ketika bertutur cerita serta cara penyampainnya membuatku tak ingin terlepas sedikitpun memandang mas Eko. Sampai berjam-jam aku akan setia mendengar mas Eko bercerita tentang bethoven, chopin, Renaissance, classic, baroque, romantik, atau awal mula Jazz hingga musisi jalanan Iwan Fals sampai dengan Ki Narto Sabdo. Terkadang aku geli sendiri ketika harus mengingat saat mencuri uang simbok didompet untuk membeli rokok buat mas Eko biar ceritanya bisa panjang dan tidak terputus gara-gara rokoknya habis.
“Apapun bisa kita ciptakan kalau kita mau dan bersungguh-sungguh,” itu yang selalu menjadi pamungkas disetiap cerita mas Eko.

Kenyataan yang tidak bisa dipungkiri adalah ketika aku harus menerima kejadian-kejadian masa kecilku yang muncul secara tiba-tiba disini. Terlalu kuat kenangan itu untuk di paksa tidak muncul saat kita pulang kerumah. Seburuk apapun kenangan, sepahit apapun perjalanan hidup, suka, duka, atau dendam yang masih membara, tentu ada hikmah dibalik itu semua, pelajaran yang paling berharga yang tidak akan pernah kita temui di sekolah ataupun perguruan tinggi manapun didunia ini.
Dikeluarga, aku anak terakhir dan yang paling kurang beruntung. Kakak pertamaku mas Hendra begitu lulus kuliah langsung kerja di Salatiga. Kurang lebih tujuh tahun bekerja kakakku mengundurkan diri dan pindah haluan menjadi penjual beras dipasar. Bakat dagangnya sepertinya sudah terbaca oleh bapak sejak mas Hendra SMP. Makanya ketika mas Hendra mengundurkan diri dan berkeinginan untuk berdagang bapak hanya manggut-manggut saja. Aku masih ingat ucapan bapak waktu itu,
“Mas mu itu besok kalo kerja kantoran nggak bakal betah le, kata bapak sembari menyeruput kopi.”
Coba kamu ingat, dari SMP mas Hendra itu cerdik dalam mencari celah. Apa saja yang ada ditangannya pasti bisa menjadi duit ucap bapak.
Kakakku nomer dua umur tiga tahun diminta oleh bulik Sarmi adik dari simbok yang kebetulan rumahnya bersebelahan dan belum punya anak setelah menikah lebih dari tujuh tahun. Terakhir aku, yang terlahir saat bapak sudah pensiun lebih dari dua bulan. Niatku untuk kuliah setelah lulus SMA pun akhirnya harus kandas karena kondisi keuangan keluarga yang semakin sulit. Satu-satunya peninggalan kakakku berupa toko kelontong kecil ditambah dengan gaji pensiun bapak hanya cukup untuk makan sehari-hari. Usaha mas Hendra yang dulu dirintis dari bawah semuanya amblas. Mas Hendra dituduh menjadi salah satu sindikat penyalur penjualan beras ilegal bulog dan didakwa delapan tahun masuk penjara.

Akhirnya sampai juga dirumah. Jam menunjukkan pukul 12:03. Barang-barang berupa tas dan koran yang aku beli di kereta kulemparkan begitu saja dikamar. Aku langsung menuju tiang jemuran belakang rumah menyambar handuk dan menuju kamar mandi. Tubuhku terasa lengket. Simbok yang lagi masak didapur tak sempat kusapa ketika aku lewat hendak masuk kekamar mandi. Sempat ia menoleh dan menatapku sebentar lalu kembali meneruskan pekerjaannya.
Sepertinya simbok sudah tahu.
Ya, simbok pasti tahu apapun tentang diriku. Dialah yang selalu dengan sabar mengajariku cara merangkai dan mengingat satu persatu kegiatan yang aku lakukan selama satu hari untuk kemudian menjadi renungan di malam sebelum tidur . Dari simbokku inilah akhirnya aku semakin tahu betapa mengingat peristiwa yang kita lakukan seharian membuatku lebih menghargai apa yang disebut waktu dan juga hati-hati dalam berbicara serta bersikap.
Simbok benar-benar orang yang paling tahu tentang diriku luar dalam, dan aku sangat bangga dengan simbokku.
Setelah kutanggalkan baju, langsung ku guyur air kepalaku berkali-kali satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tak terhitung hingga kurasakan kepalaku benar-benar dingin.
Bayang-bayang itu masih bersliweran. Mak pujo,mas Pace, Cahyo, Menyung, Agus kempong, kang Pardi, mas Harno. Kembali wajah-wajah mereka berkelebat. Kali ini lebih pelan dan menatapku dengan pandangan kosong. Mereka-mereka itu adalah orang-orang yang sangat berarti dihidupku. Orang-orang yang selalu mengajariku tentang hidup. Aku ingat sekali ucapan budhe Atun waktu itu.
“Kalau kamu mau merasakan kegembiraan, kamu harus paham betul tentang kesedihan.” Itu sudah rumus Jon, kata budhe Atun sembari menghisap rokok kretek Gudang Garam merah kesukaannya.
“Lihat aku Jon, kata budhe Atun lagi, Semua warga disini menganggap aku ini kurang kerjaan karna setiap hari hanya nguthak-uthek angka dan angka.”
“Tapi mereka tidak pernah menyadari sudah berapa nomerku yang mereka beli dan tembus. “
“Boro-boro mereka berterima kasih, Sepeserpun Jon, aku tidak pernah minta uang dari mereka.”
“Coba kamu pikir, sama tidak mereka dengan aku? “
Aku hanya manggut-manggut dan berusaha memahami apa yang dipikirkan budhe Atun. Kenangan-kenangang masa laluku begitu kuat terekam. Inilah yang menjadi salah satu kelebihanku dibandingkan saudara-saudaraku yang lain.
Cukup lama aku didalam kamar mandi, hingga terdengar suara pintu kamar mandi diketuk pelan.
“Jon”..,pelan suara simbok memangilku.
“Ya mbok,” kataku menyadarkan lamunanku.”
Jelas simbok tahu apa yang sedang mengusik pikiranku.
“Bentar lagi mbok,”! ucapku datar.”
Kembali gayung-demi gayung air membasahi tubuhku yang mulai pucat kedinginan. Sesaat kemudian aku keluar dari kamar mandi sambil sesekali kuseka rambutku dengan handuk.
“Masak apa mbok,” kataku berusaha mencegah kalau-kalau simbok bertanya tentang apa yang aku rasakan saat ini, meskipun aku tahu simbok tidak mudah ditipu dengan hal yang remeh-temeh seperti itu.
“Masak oseng-oseng kacang le,” kata simbok memunggungiku.
Aku tahu dan sangat paham dengan sikap simbok kali ini. Simbok sepertinya tidak ingin ikut campur dengan apa yang menjadi pikiranku saat ini.
“Ya sudah,” makan dulu sana,”
mumpung masih panas sayurnya, Kata simbok!
”kalau sudah selesai istirahat dulu barang satu atau dua jam le,ucap simbok mengingatkanku.
“ya mbok.”

Aku terbangun ketika jam menunjukan pukul 19.57. Hampir kurang lebih 7 jam aku dibius bantal biru bergambar kucing kesayanganku. Mataku serasa berat untuk dibuka. Kubiarkan tubuhku terbujur. Sepertinya aku memang malas untuk bangun kali ini. Dari kaca nako kamar udara berhembus pelan dan dingin. Sesekali aroma bunga kenanga milik mbah Toyo disamping rumah begitu kuat menyeruak memasuki kamarku.
Sepuluh menit telah lewat. Aku tetap saja tidak bergeming meskipun mataku sudah tidak mau dipejamkan lagi. Tiba-tiba, entah ada kekuatan dari mana aku mendadak bangun dan segera berlari menuju kamar mandi untuk mencuci muka. Simbok dan mas Benu kakak keduaku yang lagi asyik nonton sinentron terheran-heran melihat aku seperti orang kebingungan. Setelah selesai mencuci muka segera kuhampiri simbok.
“Mbok bapak mana? kataku pelan.
“Ya biasa to, kalau jam segini bapakmu masih dimasjid,” kata simbokku pelan.
“Aku mau keluar dulu mbok, kataku seraya meninggalkan simbokku yang sepertinya tidak mau diganggu.
“Eh,..mau kemana le! Teriak simbok.
“Cuma sebentar mbok,” sembari kuambil sandal dan bergegas pergi.
“Ati-ati Jon,” “Pulang jangan malam-malam “!

Untuk kesekian kalinya aku hanya bisa diam setiap memandang bangunan tua yang dulunya bekas bioskop itu. Bangunan yang sekarang tak terpakai itu semakin terlihat angker dimalam hari. Kubiarkan pikiranku mengembara kemasa-masa silam tahun 1980. Sengaja aku tidak ingin menahan pikiranku untuk tidak kembali dimasa itu. Aku sudah terlalu capek. Capek dengan keadaan yang aku sendiri tidak tahu. Inilah yang menjadi permasalahan utamaku ketika ajaran simbok tentang merangkai dan mengingat peristiwa atau kejadian selama satu hari sudah lama tidak kuterapkan. Lebih tepatnya kutinggal.
Aku masih belum beranjak dari tempatku berdiri. Sketsa-sketsa masa laluku satu persatu muncul, berputar, bergeser naik, kadang kesamping, lalu turun, naik lagi, dan berhenti, begitu seterusnya hingga membentuk sebuah layar putih dan perlahan wajah-wajah mereka muncul. Mereka adalah kawan, saudara, kakak, sekaligus orang tua bagiku. Semuanya sudah tak mungkin lagi bisa kujumpai.
Mas Pace terlindas truk pasir ketika mengejar layang-layang putus untuk dihadiahkan pada ulang tahunku yang ke15 waktu itu. Budhe Atun mati mengenaskan dikeroyok orang-orang tak dikenal sepulang dari rumah sang bandar membawa uang 15 juta karena nomernya tembus. Menyung, Cahyo, kang Pardi, mas Harno merantau di Jakarta ikut kawanan bajing loncat dan berhasil di Dor kawanan polisi ketika persembunyian mereka digerebek. Mak Pujo belum 4 bulan meninggal karena sakit-sakitan, sedang Cahyo dan Agus kempong, aku tidak tahu keberadaan mereka sekarang ada dimana.
Aku masih diam. Bahkan bergeserpun tidak. Wajah-wajah mereka semakin jelas terlihat. Kadang-kadang saja bergoyang ketika angin dari arah gang dibelakang bioskop berhembus kencang. Kurapatkan tanganku didada. Benar-benar dingin malam ini. Selangkah demi selangkah aku mencoba mendekati bangunan tua itu. Sayup-sayup suara penjual mi tek tek terdengar pelan. Desau angin seolah-olah menjerat langkah kakiku untuk semakin mendekati bangunan tua tersebut. Tanganku semakin merapat didada.
“Sial, kenapa tadi aku tidak membawa jaket rutukku dalam hati.”
Tinggal sekitar lima langkah aku sudah sampai dipojok gang disamping bioskop yang dulu biasa menjadi tempat kenanganku bersama mas Eko tertoreh disana. Dilangkah ketiga aku fokuskan pandanganku kearah tembok disamping lincak yang sudah patah kaki depannya. Tiba-tiba tubuhku menggigil. Tulisan itu masih ada, meski sebagian sudah mulai tertutup lumut. Tulisan mas Eko ternyata masih ada dan semakin jelas kulihat,
“Apap_n _isa ___ta ciptakan kalau __ta mau dan bersung___-sguh.
“Mas Eko, ucapku dalam hati.”
Aku semakin menggigil,. Air mataku tumpah tak terbendung. Jalanan semakin sepi. Aku ingin pergi, tapi hanya jari-jari kakiku yang mampu kugerakkan. Cahaya bulan yang memantul dibangunan tua itu membentuk siluet perih. Ku beranikan diri untuk memandang ke atap bangunan bioskop yang semakin membuat sendi-sendi kakiku lemas. Aku seperti linglung tak lepas memandang kosong bangunan tua itu.
“Ngapa mas….ngapa kok kudu ngono….jerit batinku perih.”
Dari tempat kuberdiri aku melihat tali itu masih menggantung disana terayun-ayun pelan tanpa mas Eko.

Jogja 25 juli 2010

Advertisements