Bagaiman kita mendengarkan musik Jazz

Artikel 2

Tulis..tulis…dan terus tulis…Ha..ha..ha… Barangkali memang benar untuk tetap terus bisa menuangkan ide2 dipikiran kita, apapun bentuknya kita harus bergerak eksis tapi tidak narsis dan berpedoman pada teori Sir Kuncrit yaitu AKP (aktif, kreatif, positif), salah satunya seperti yang diungkapkan oleh seorang teman lewat SMS nya beberapa hari yang lalu yang berbunyi tulis…tulis….dan terus tulis. Berangkat dengan modal pengetahuan yang pas-pasan alias nekat kuberanikan untuk menyambung cerita seputar dunia jazz, cara memahami dan menikmatinya. Tentunya, ya menurut pemahamanku sendiri (tidak ada niat untuk sombong lho). Apakah ceritanya mau dilanjutkan? He..he..he..Soalnya kalaupun tidak dilanjutkan juga tidak apa-apa, tapi yang pasti aku akan tetap menulis…menulis…dan terus menulis.

Bagaiman kita mendengarkan musik Jazz

Pertama yang harus kita lakukan adalah kita mesti mengerti dan tahu sejumlah elemen dan sumber jazz. Jelas bahwa jazz merupakan satu istilah yang mencakup jenis musik yang beragam sehingga usaha menawarkan aturan-aturan baku atau bahkan saran-saran sederhana untuk memahami jenis-jenis musik ini sama dengan mencari masalah. Sebagian orang mungkin mendengarkannya secara fisik, memperoleh kesenangan pada tingkat respon fisikal, dan untuk ini jazz bisa menawarkan banyak hal. Sebuah Groub jazz bisa menciptakan momen yang luar biasa intens (oleh-oleh dari jazz dialog bersama om Benny Likumahua&Syaharani), permainan yang menyihir penonton dan sesaat membuat nafas berhenti, larut, tanpa disadari seolah-olah diajak untuk meniti ombak bersama mereka, meloncat dari tempat duduk dan berteriak spontan. Itulah gaya jazz (Sutanto mendut, kosmologi gendhing gendheng) dialog yang tidak direncana tapi nyambung. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah aktor seperti Butet si raja monolog juga pantas disebut sebagai si raja monolog yang ngejazz? Karena Butet juga mampu menyihir para penonton, mengobrak-abrik perasaan dan mampu menimbulkan kebencian para penonton karena tokoh yang diperankan betul-betul hidup. Ha..ha..ha..sepertinya semua yang berbau seni seperti saling terkait, nyambung tapi tidak othak-athik gathuk. Sejumlah kecil pemain − misalnya Sonny Rollins − bisa mendapatkan respons yng begitu dahsyat tanpa instrumen lain, yaitu dengan memainkan penemuan-penemuan melodis dan kekuatan irama yang begitu menyentuh sehingga energi mereka seolah-olah melompat kearah penonton, dan menciptakan aura komunitas yang nyaris spiritual disekitar para musisinya. Perusahaan rekaman jazz memprakarsai rekaman live pada tahun 1940an, dan beberapa rekaman pada masa itu, seperti jazz at the philharmonic : Best of the 1940s Concert, Verve 557534 mengabadikan luapan kegembiraan penonton yang dibangkitkan oleh jazz. Berlawanan dengan teriakan dan sorak-sorai penonton masa kini, pada tahun 1940an, rintihan, permohonan dan bahkan kutukan seperti itu sering kali bersifat personal, khusus, dan bisa dengan mudah diidentifikasi dalam rekaman.

Jazz juga bisa didengarkan dengan tingkat dan modalitas aktivitas intelektual yang berbeda, semacam bangunan pendengaran atau struktur visual. Jadi, sementara mendengarkan melodi yang dibangun nada demi nada, sekaligus menciptakan bentuk-bentuk yang disusun oleh ritme dan harmoni atau malah seperti halnya seseorang mengikuti para olahragawan profesional, melakukan interaksi dengan para penggemar lainnya, mencatat pencapaian, menyusun daftar nama, mengikuti tren, dan menebak hasil akhir. Dan dimana serta kapan seseorang menjumpai jazz − dikonser, cafe, angkringan, tempat pelacuran, WC umum, terminal, musik latar sebuah restoran ketika tedapat laki-laki dan perempuan larut dalam pijar lampu melankoli, berdansa, disebuah klub kecil atau barangkali dari samping sebuah bak sampah dimana selalu kulihat lelaki tua itu asyik menjentikkan jari-jemarinya yang rapuh, Suaranya ngeblues, serak seperti nasibnya. Diancuk…! untuk kesekian kalinya aku kembali terjebak diantara jaring-jaring nada improvisasi yang dipintal dengan mesin bernama swing yang sesekali mengeluarkan cipratan-cipratan motif sinkop yang ganjil. Lelaki tua itu, dengan segala keyakinannya, konsisten memainkan siternya secara ngejazz…..GILA ! Oh ya, masih terdapat beberapa hal mendasar yang harus diketahui seseorang saat menjumpai jazz. Pertama, pentingnya ritme, lebih spesifik lagi rhythm section (kalau ada). Didalam jazz ritme bersifat fundamental dan statusnya disamakan dengan (bahkan lebih tinggi) melodi dan harmoni. Rhtyhm section-lah yang menjadi pusat dan menggerakkan musik. Jazz yang hebat memang bisa dimainkan tanpa rhthym section yang hebat, tapi biasanya cukup fair untuk dikatakan bahwa kehebatan itu muncul karena ketidakhadiran tersebut. Semua musisi dalam tradisi jazz, bahkan mereka yang tidak terkenal, bermain dengan kepekaan ritmis yang kuat, atau mungkin khususnya ketika mereka menghadapi beat atau bermain dengan apa yang disebut ritme konseptual. Banyak perdebatan mengenai apa itu jazz atau seperti apa jazz dimasa depan berkisar diseputar ritme. Pertanyaan sederhananya adalah seperti ini : Apakah jazz harus selalu menampilkan komitmen total terhadap kepekaan ritme (atau swing) seperti yang terdengar dalam permainan Bud Powell(atau figur-figur totemik lainnya)? Atau apakah jazz bisa dimainkan dengan kepekaan ritmis yang lebih lembut, tipis, atau bahkan tersamar ? Pertimbangkan jajaran pianis yang kini masih aktif − Keith Jarrett, Matthew Ship, Randy Weston, John Lewis, Joane Brackeen, Borah Bergman, McCoy Tyner, Dave brubeck, Geri Allen dan masih banyak lagi − apakah mereka semua dinilai berdasarkan Powell, atau apakah ada ruang untuk inovasi dan revisi? Seberapa fundamentalkah ritme? Ha..ha..ha.. tentu saja ini pertanyaan yang sudah disederhanakan, tetapi perdebatan seperti itu juga sama sederhananya. Ada elemen lain yang juga perlu diperhatikan , yaitu variasi. Banyak musisi jazz memvariasikan karya-karya sebelumnya, berkali-kali mengomposisi ulang melodinya, membentuk link baru terhadapnya, entah dari melodi aslinya, melodi yang direkam oleh musisi lain, atau bahkan chorus yang baru saja dirampungkan seseorang. Hal lain yang harus didengarkan adalah interaksi − respon seorang musisi terhadap musisi yang lain dalam sebuah pertunjukan. Hal ini tidak dipandang sebagai semata-mata improvisasi, pergeseran-pergeseran yang dilakukan untuk menanggapi apa yang telah dimainkan pemain lainnya merupakan hal yang mendasar bagi jazz, dan menjadi bentuk improvisasi kolektif. Akord yang dipilih seorang pemain keyboard, penempatan akord, atau pilihan untuk tidak memainkan apapun − penggunaan keheningan sebagai instrumen musikal − sebagai respon terhadap solois yang juga merespon pilihan pemain keyboard merupakan bentuk interaksi jazz yang fundamental dan selalu hadir. Tapi kenyataannya lebih rumit daripada ini. Pilihan independen pemain bas dan drummer pada saat yang sama juga merupakan bagian dari campuran interaksi tersebut. Groub seperti kuintet Miles Davis dipertengahan 1960an atau Bill Evan’s Trio bersama Scott La faro dan Paul Motian adalah contoh terbaik permainan interaktif. Well..well..well..rasanya membahas tentang jazz tidak akan ada habis-habisnya. Tapi it’s fine. Hanya saja sekarang sudah hampir pagi. Jam 03.47 dan dari tadi hidungku tak henti-hentinya mengeluarkan cairan bening, ya sedikit mengganggu sih. Jaket yang kukenakan seperti tak berdaya melawan cengkeraman dingin. Lalu lalang motor berjarak 20 menit terasa betapa kehidupan begitu sunyi. Sesekali masih kudengar denting dawai siter itu kali ini ia tidak sendiri. Tiupan saxophone miles Davis dengan tempo glisando terasa semakin mengiris perih. Tiba-tiba saja aku rindu senja, aku rindu bias pelangi, rindu hujan, iri dengan anak-anak emprit yang melendot manja disayap ibunya. Aku rindu bertemu kawan-kawan lamaku. Deni, Achie bocah ajaib, Cheppy, Suryo, Koko, Sugeng, Gerandong, Kamto, Konyiel, sikecil mrengil Puput, Jonte, Cempluk, Inug, Eko Ethno, alm Pak Rono maestro musik ethnik dihatiku yang selalu dan tak pernah bosan memberikan nasehat serta semangat dalam setiap perjumpaan…. ternyata obrolan dibelakang panggung itu menjadi obrolan kita yang terakhir.

* bersambung *

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s