Chatting

Inilah sepenggal kisah yang terjadi begitu saja.Tanpa ada rekayasa atau bumbu-bumbu dalam cerita ini agar menarik untuk dibaca. Seperti namanya ternyata dunia maya tidaklah seindah dunia nyata. Dunia yang penuh dengan mimpi-mimpi, warna-warni, merah, biru, jambon, oranye, jingga bianglala atau senja. Dunia dimana kita bisa sejenak meninggalkan rutinitas-rutinitas menjemukan, membosankan yang barangkali saja terasa menjerat dan mengantarkan kita ketiang gantungan bernama stress depresi dan kroni-kroninya. Kita bisa terhibur bahkan tertawa terbahak-bahak ketika kita telah masuk kedalamnya. Ha..ha..ha.. ternyata tekhnologi bisa memporak-porandakan suasana dan hati kita. Semakin murahnya tiket masuk kedunia maya semakin rentan pula kita terjebak kedalam sistem atau aturan yang diterapkan oleh dunia maya dan konco-konconya tersebut. Euforia menyebar tanpa kita sadari. GILA !!! Gila yang absurd. Dunia maya memang selalu menjanjikan dan memanjakan keinginan kita. Pertanyaan yang paling mendasar adalah sejauh mana kita butuh media bernama internet yang memudahkan kita dalam mencari jutaan informasi mulai dari kebudayaan, tekhnologi, iklan, informasi barang murah, berita terbaru, sampai dengan mencari teman, kontak jodoh (disertai dengan photo) ? Dengan semakin mudahnya kita menggunakan fasilitas yang diberikan apakah tidak menutup kemungkinan ada resiko dibelakangnya yang barangkali tidak kita sadari.

Dari sinilah cerita akan kuawali dan bergulir. Bermula dari keinginanku untuk mencari teman sebanyak-banyaknya mengantarkankanku kedalam dunia yang akrab disebut Chatting. Aku seperti menemukan suasana baru dimana aku bisa berkenalan dengan orang yang sama sekali tidak kukenal. Begitu mudahnya percakapan tercipta bahkan tanpa ada hitungan detik semuanya berjalan mengalir begitu saja. Ngobrol kesana kemari, ketawa-ketiwi, menangis, menghujat, mengobral janji sampai dengan curhat. Mungkin terlihat naif ketika aku akan menceritakan kisahku ini, tapi semoga saja kalian yang suka chatting kudoakan suatu saat mengalami hal yang saat ini kurasakan. Aku belum lama mengenalnya. Tidak ada yang spesial dari sosok yang aku kenal ini. Kami hanya ngobrol biasa, tidak lebih. Hingga suatu ketika sosok yang bagiku begitu misterius curhat seputar hubungannya dengan pacarnya, cinta cinta cinta dan cinta. Obrolan kami semakin nyambung. Entahlah tiba-tiba saja aku kepingin keluar sebentar untuk melihat langit. Jangkrik…senja begitu indah. Semburat emasnya terasa lembut menembus rimbun dedaun menembus tanah dan seperti menciptakan garis garis tegas yang memancarkan kehangatan. Lalu aku ceritakan kepadanya baru saja aku melihat senja yang begitu indah, senja yang tak pernah berhenti menyapaku setiap sore, senja yang tak pernah berhenti memancarkan sinar kehangatan, senja yang begitu memahami dan selalu setia menemaniku ketika aku terpuruk dalam kegalauan hati.

Malam hari. Aku tidak tahu pasti jam berapa ketika aku online ternyata diapun online dan yang terjadi obrolan demi obrolan kembali tercipta, lebih tepatnya kami ciptakan. Topik demi topik kami angkat dan bahas secara sederhana. Ternyata waktu memang tidak pernah mau diajak berkompromi. Akhirnya obrolan kami putus karena masing-masing sudah mulai ngantuk. Anehnya lagi obrolan itu kuakhiri dengan meninggalkan nomer HP. Tidak tepat kalau waktu itu dikatakan pagi karena saat aku terbangun dari tidur didalam kamarku terasa sedikit panas. Saat itu keinginanku hanyalah mengambil HP. Aku kaget ketika membaca SMS yang ternyata dari dia. Intinya dia memberi tahu kalau mau SMS atau telpon silahkan menghubungi nomer ini. Jujur aku bingung saat itu, tapi senang. Tidak pernah kubayangkan itu semua bakal terjadi.

Hari demi hari kami saling bekomunikasi hanya kali ini via SMS atau sesekali telpon. Disadari atau tidak obrolan kami mulai menjurus tentang perasaan yang masing-masing kami rasakan. Sampai tulisan ini aku tulis aku masih merasa heran dan takjub begitu misterikah cinta itu. Kita tidak pernah bisa menduga kapan perasaan itu datang dan pergi. Kita hanya bisa menerima, ngopeni, memupuk juga menyirami untuk terus tumbuh dan tumbuh. Hingga pada suatu ketika aku memberanikan diri untuk mengutarakan perasaanku padanya. Aku tahu kemungkinan itu sangatlah kecil karena hatinya sudah dijaga oleh seseorang disana. Tapi aku juga tidak mau memunafiki diriku bahwa ada sesuatu yang tumbuh dihatiku. Dan apa yang aku rasakan ternyata juga dirasakan olehnya, hanya saja dia masih mempunyai seseorang yang selama ini menjaga hatinya. Setiap saat komunikasi masih terjalin apik meskipun batin kami sebenarnya bergejolak. Masing-masing dari kami berusaha untuk saling menjaga perasaan. Lalu atas dasar apakah perasaan itu hadir dihati kami ketika suatu pagi sebuah kejujuran diutarakan, dia mencintaiku seperti akupun mencintainya. Dia punya seseorang disana, tapi dia juga tidak bisa menghindari ada perasaan yang tumbuh dihatinya untukku, dia merasa nyaman bersamaku, dia merasa bahagia bersamaku tetapi dari semua itu dia juga tidak mau mengkhianati perasaannya terhadap seseorang yang telah menjaga hatinya. Sejak pengungkapan itu kami tetap berusaha untuk terus dan terus menjaga perasaan masing-masing, hingga suatu saat dia berkata lebuh baik kita bersahabat saja. Aku kaget dengan pernyataan dia dan aku mencoba untuk menghargai keputusannya. Apapun yang terjadi, apapun yang dirasakan saat ini oleh kami dan apapun yang bergejolak dihati kami biarlah menjadi misteri, seperti cinta itu sendiri yang datang dan pergi tanpa kita sadari.

Kepada seorang gadis bermata senja kuungkapkan semua ini dalam tulisan karena aku tidak tahu prahara ini harus kulampiasakan dengan apa dan kepada siapa….

Surat

Dear matahariku

Bagaimana kabarmu hari ini ? aku tahu pastinya begitu sulit hari hari yang kau lewati tanpa ada aku disampingmu. Aku sendiri juga merasakan hal yang sama disini. Aku maklum, keadaan yang membuat kita tidak bisa atau barangkali kita memang tidak mungkin bertemu.

Matahariku

Setiap kali melihat senja selalu saja aku teringat kepadamu. Warna emasnya selalu mengingatkan kepada kita bahwa cinta kitapun murni seperti senja yang berwarna keemasan. Kau pasti masih ingat juga ketika pada suatu sore aku bercerita tentang suasana ditepi pantai, dimana cahaya senja selalu setia membagi kilau emasnya yang begitu hangat kita rasakan setiap sore.

Matahariku

Betapa begitu indahnya arti sebuah kejujuran dan ketulusan.Entahlah mengapa akupun tidak pernah merasa takut untuk memulai merangkai satu persatu kata demi kata, kalimat demi kalimat untuk mengungkapkan betapa begitu dalamnya perasaanku kepadamu. Perasaan yang sangat kuat, begitu dahsyat yang membuat jantung berdetak, nafas serasa berhenti yang kau juga merasakannya. Aku masih ingat ketika itu kau tiba-tiba datang hadir dalam kehidupanku. Kehidupan yang sebelumnya terasa biasa hingga seolah-olah seperti menjebakku dalam rutinitas kepalsuan. Bagaimana aku bisa membohongi diriku sendiri ketika secara ajaibnya tumbuh sesuatu yang aku sendiri tak mengerti apakah sesuatu itu. Aku hanya bisa merasakan bahwa dari hari kehari sesuatu itu semakin berkembang begitu cepat. Kadang-kadang aku merasa takut gerangan apakah yang tumbuh itu yang akhir-akhir ini menjadikanku gelisah dan sulit tidur nyenyak. Apakah aku telah jatuh cinta?

7 Desember 2008 jam 10.53:23 kebimbangan itu pecah

dan mengulirkan sebuah pernyataan,

kau mencintaiku.

Siapakah yang mampu meredam gejolak prahara hati?

Siapakah yang bisa membaca langkah kaki

Aku telah bermain api

Aku menjadikan diriku seorang nabi

Dedaun tak lagi membias senja

Semar menjauhkan makna

semesta menggurat pekat

aku larut dalam bebaris kalimat qur’ani

dan diantara doa para wali

kuselipkan namamu disini

alif…

lam…

mim…

masih kusimpan cincin bermata pelangi itu untukmu

dan hanya untukmu

Catatan : alam semesta merekam setiap kata-kata kita

Tuhan bakal menjawab isi hati

manusia hanya bisa menunggu dan menunggu

Bagaiman kita mendengarkan musik Jazz

Artikel 2

Tulis..tulis…dan terus tulis…Ha..ha..ha… Barangkali memang benar untuk tetap terus bisa menuangkan ide2 dipikiran kita, apapun bentuknya kita harus bergerak eksis tapi tidak narsis dan berpedoman pada teori Sir Kuncrit yaitu AKP (aktif, kreatif, positif), salah satunya seperti yang diungkapkan oleh seorang teman lewat SMS nya beberapa hari yang lalu yang berbunyi tulis…tulis….dan terus tulis. Berangkat dengan modal pengetahuan yang pas-pasan alias nekat kuberanikan untuk menyambung cerita seputar dunia jazz, cara memahami dan menikmatinya. Tentunya, ya menurut pemahamanku sendiri (tidak ada niat untuk sombong lho). Apakah ceritanya mau dilanjutkan? He..he..he..Soalnya kalaupun tidak dilanjutkan juga tidak apa-apa, tapi yang pasti aku akan tetap menulis…menulis…dan terus menulis.

Bagaiman kita mendengarkan musik Jazz

Pertama yang harus kita lakukan adalah kita mesti mengerti dan tahu sejumlah elemen dan sumber jazz. Jelas bahwa jazz merupakan satu istilah yang mencakup jenis musik yang beragam sehingga usaha menawarkan aturan-aturan baku atau bahkan saran-saran sederhana untuk memahami jenis-jenis musik ini sama dengan mencari masalah. Sebagian orang mungkin mendengarkannya secara fisik, memperoleh kesenangan pada tingkat respon fisikal, dan untuk ini jazz bisa menawarkan banyak hal. Sebuah Groub jazz bisa menciptakan momen yang luar biasa intens (oleh-oleh dari jazz dialog bersama om Benny Likumahua&Syaharani), permainan yang menyihir penonton dan sesaat membuat nafas berhenti, larut, tanpa disadari seolah-olah diajak untuk meniti ombak bersama mereka, meloncat dari tempat duduk dan berteriak spontan. Itulah gaya jazz (Sutanto mendut, kosmologi gendhing gendheng) dialog yang tidak direncana tapi nyambung. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah aktor seperti Butet si raja monolog juga pantas disebut sebagai si raja monolog yang ngejazz? Karena Butet juga mampu menyihir para penonton, mengobrak-abrik perasaan dan mampu menimbulkan kebencian para penonton karena tokoh yang diperankan betul-betul hidup. Ha..ha..ha..sepertinya semua yang berbau seni seperti saling terkait, nyambung tapi tidak othak-athik gathuk. Sejumlah kecil pemain − misalnya Sonny Rollins − bisa mendapatkan respons yng begitu dahsyat tanpa instrumen lain, yaitu dengan memainkan penemuan-penemuan melodis dan kekuatan irama yang begitu menyentuh sehingga energi mereka seolah-olah melompat kearah penonton, dan menciptakan aura komunitas yang nyaris spiritual disekitar para musisinya. Perusahaan rekaman jazz memprakarsai rekaman live pada tahun 1940an, dan beberapa rekaman pada masa itu, seperti jazz at the philharmonic : Best of the 1940s Concert, Verve 557534 mengabadikan luapan kegembiraan penonton yang dibangkitkan oleh jazz. Berlawanan dengan teriakan dan sorak-sorai penonton masa kini, pada tahun 1940an, rintihan, permohonan dan bahkan kutukan seperti itu sering kali bersifat personal, khusus, dan bisa dengan mudah diidentifikasi dalam rekaman.

Jazz juga bisa didengarkan dengan tingkat dan modalitas aktivitas intelektual yang berbeda, semacam bangunan pendengaran atau struktur visual. Jadi, sementara mendengarkan melodi yang dibangun nada demi nada, sekaligus menciptakan bentuk-bentuk yang disusun oleh ritme dan harmoni atau malah seperti halnya seseorang mengikuti para olahragawan profesional, melakukan interaksi dengan para penggemar lainnya, mencatat pencapaian, menyusun daftar nama, mengikuti tren, dan menebak hasil akhir. Dan dimana serta kapan seseorang menjumpai jazz − dikonser, cafe, angkringan, tempat pelacuran, WC umum, terminal, musik latar sebuah restoran ketika tedapat laki-laki dan perempuan larut dalam pijar lampu melankoli, berdansa, disebuah klub kecil atau barangkali dari samping sebuah bak sampah dimana selalu kulihat lelaki tua itu asyik menjentikkan jari-jemarinya yang rapuh, Suaranya ngeblues, serak seperti nasibnya. Diancuk…! untuk kesekian kalinya aku kembali terjebak diantara jaring-jaring nada improvisasi yang dipintal dengan mesin bernama swing yang sesekali mengeluarkan cipratan-cipratan motif sinkop yang ganjil. Lelaki tua itu, dengan segala keyakinannya, konsisten memainkan siternya secara ngejazz…..GILA ! Oh ya, masih terdapat beberapa hal mendasar yang harus diketahui seseorang saat menjumpai jazz. Pertama, pentingnya ritme, lebih spesifik lagi rhythm section (kalau ada). Didalam jazz ritme bersifat fundamental dan statusnya disamakan dengan (bahkan lebih tinggi) melodi dan harmoni. Rhtyhm section-lah yang menjadi pusat dan menggerakkan musik. Jazz yang hebat memang bisa dimainkan tanpa rhthym section yang hebat, tapi biasanya cukup fair untuk dikatakan bahwa kehebatan itu muncul karena ketidakhadiran tersebut. Semua musisi dalam tradisi jazz, bahkan mereka yang tidak terkenal, bermain dengan kepekaan ritmis yang kuat, atau mungkin khususnya ketika mereka menghadapi beat atau bermain dengan apa yang disebut ritme konseptual. Banyak perdebatan mengenai apa itu jazz atau seperti apa jazz dimasa depan berkisar diseputar ritme. Pertanyaan sederhananya adalah seperti ini : Apakah jazz harus selalu menampilkan komitmen total terhadap kepekaan ritme (atau swing) seperti yang terdengar dalam permainan Bud Powell(atau figur-figur totemik lainnya)? Atau apakah jazz bisa dimainkan dengan kepekaan ritmis yang lebih lembut, tipis, atau bahkan tersamar ? Pertimbangkan jajaran pianis yang kini masih aktif − Keith Jarrett, Matthew Ship, Randy Weston, John Lewis, Joane Brackeen, Borah Bergman, McCoy Tyner, Dave brubeck, Geri Allen dan masih banyak lagi − apakah mereka semua dinilai berdasarkan Powell, atau apakah ada ruang untuk inovasi dan revisi? Seberapa fundamentalkah ritme? Ha..ha..ha.. tentu saja ini pertanyaan yang sudah disederhanakan, tetapi perdebatan seperti itu juga sama sederhananya. Ada elemen lain yang juga perlu diperhatikan , yaitu variasi. Banyak musisi jazz memvariasikan karya-karya sebelumnya, berkali-kali mengomposisi ulang melodinya, membentuk link baru terhadapnya, entah dari melodi aslinya, melodi yang direkam oleh musisi lain, atau bahkan chorus yang baru saja dirampungkan seseorang. Hal lain yang harus didengarkan adalah interaksi − respon seorang musisi terhadap musisi yang lain dalam sebuah pertunjukan. Hal ini tidak dipandang sebagai semata-mata improvisasi, pergeseran-pergeseran yang dilakukan untuk menanggapi apa yang telah dimainkan pemain lainnya merupakan hal yang mendasar bagi jazz, dan menjadi bentuk improvisasi kolektif. Akord yang dipilih seorang pemain keyboard, penempatan akord, atau pilihan untuk tidak memainkan apapun − penggunaan keheningan sebagai instrumen musikal − sebagai respon terhadap solois yang juga merespon pilihan pemain keyboard merupakan bentuk interaksi jazz yang fundamental dan selalu hadir. Tapi kenyataannya lebih rumit daripada ini. Pilihan independen pemain bas dan drummer pada saat yang sama juga merupakan bagian dari campuran interaksi tersebut. Groub seperti kuintet Miles Davis dipertengahan 1960an atau Bill Evan’s Trio bersama Scott La faro dan Paul Motian adalah contoh terbaik permainan interaktif. Well..well..well..rasanya membahas tentang jazz tidak akan ada habis-habisnya. Tapi it’s fine. Hanya saja sekarang sudah hampir pagi. Jam 03.47 dan dari tadi hidungku tak henti-hentinya mengeluarkan cairan bening, ya sedikit mengganggu sih. Jaket yang kukenakan seperti tak berdaya melawan cengkeraman dingin. Lalu lalang motor berjarak 20 menit terasa betapa kehidupan begitu sunyi. Sesekali masih kudengar denting dawai siter itu kali ini ia tidak sendiri. Tiupan saxophone miles Davis dengan tempo glisando terasa semakin mengiris perih. Tiba-tiba saja aku rindu senja, aku rindu bias pelangi, rindu hujan, iri dengan anak-anak emprit yang melendot manja disayap ibunya. Aku rindu bertemu kawan-kawan lamaku. Deni, Achie bocah ajaib, Cheppy, Suryo, Koko, Sugeng, Gerandong, Kamto, Konyiel, sikecil mrengil Puput, Jonte, Cempluk, Inug, Eko Ethno, alm Pak Rono maestro musik ethnik dihatiku yang selalu dan tak pernah bosan memberikan nasehat serta semangat dalam setiap perjumpaan…. ternyata obrolan dibelakang panggung itu menjadi obrolan kita yang terakhir.

* bersambung *

Beberapa Istilah Pickup

Apa itu pickup? Mengapa dia dinamakan demikian? Pickup adalah sebuah transducer yang akan mengubah energi getar dawai menjadi energi listrik, untuk kemudian diteruskan melalui kabel. Dinamakan pickup karena dia bertugas mem-”pickup” (mengambil) setiap getaran dari dawai tersebut.

Transducer
Adalah alat pengubah energi dari satu bentuk ke bentuk lain yang berbeda. Pickup adalah transducer, karena mengubah getaran dawai menjadi sinyal listrik. Sedangkan speaker mengubah sinyal listrik ke dalam bentuk gerakan kinetik. Jadi speaker disebut juga transducer.

Trembucker atau F-Space
Trembucker adalah sebutan yang diberikan oleh pabrikan Seymour W. Duncan untuk humbucker yang akan digunakan pada gitar dengan bridge yang menggunakan Tremolo. Karena jarak antara pole to pole yang lebih lebar dan sudah disesuaikan. Sedangkan DiMarzio menamakan model ini dengan istilah F-Spaced (spasi untuk model Floyd Rose).

Pickup aktif
Pickup aktif adalah pickup yang sudah dilengkapi sebuah pre-amp listrik di dalamnya. Pre-amp ini digunakan untuk mendapatkan gain lebih tinggi, membentuk tone, dan mengurangi impedansi output.
Dibanding yang pasif, yang aktif punya kelebihan pada respon treble yang lebih baik dengan noise yang lebih rendah. Dengan pickup jenis ini, musisi pun lebih mudah membuat tone baru. Dan bila menggunakan kabel yang panjang, dijamin tidak ada frekuensi high yang hilang. Pickup aktif ini sangat ampuh, bila dipakai untuk menghasilkan sinyal yang kuat, tetapi bebas noise untuk men-drive rack-rack multi efek.

Pickup Pasif
Berbeda dengan pickup aktif, pickup pasif tidak dilengkapi sirkuit elektronik apapun di dalamnya. Umumnya pickup gitar listrik dan akustik adalah pickup pasif. Kelebihan pickup jenis ini adalah pada kadar ‘attack’-nya yang tinggi, serta keseluruhan tonality yang bisa terjaga baik dengan tone vintage, serta dinamikanya. Apalagi pickup jenis ini tidak membutuhkan baterai untuk membuatnya berfungsi.

Kalibrasi, Set Kalibrasi
Kalibrasi pickup dilakukan bila sang musisi ingin mengeset pickup sedemikian rupa sehingga level output masing-masing pickup yang terpasang dalam sebuah gitar bisa tetap seimbang. Ini akan sangat penting bila si gitaris sering memainkan pickup selector-nya. Dalam sebuah set kalibrasi, pickup yang lebih ‘hot’ sebaiknya diposisikan di dekat bridge.

Resistansi D.C
Resistansi D.C adalah resistansi terhadap aliran arus listrik searah. Ini adalah indikator umum output dan tonality. Kian tinggi tingkat resistansi D.C, biasanya mengindikasikan adanya output yang lebih tinggi dan kemungkinan tampilnya suara yang bright pun lebih kecil.

Wiring Empat Konduktor
Pada hampir semua humbucker seperti buatan Seymour W.Duncan dan DiMarzio (kecuali beberapa model vintage), masing-masing coil memiliki ujung kawat tembaganya secara terpisah. Ini akan berguna bila ingin melakukan wiring yang bervariasi. Apakah nantinya humbucker itu akan dipasang seri, paralel, in phase, out phase, atau malah akan di coil tap. Bila Anda memilih humbucker, pilihlah yang berkabel 4, karena kita tidak tahu akan kebutuhan wiring kita esok lusa.

Hum Canceling, Humbucker
Ini adalah desain pickup Seth Lover di tahun 1955 yang terdiri dari dua kawat atau coil yang berada di luar fasa (out of phase) secara elektronik dengan polaritas magnetic yang dibuat terbalik.
Tujuan konfigurasi ini adalah untuk men-cancel hum 60 cycle dan harmonic dari frekuensi yang lebih tinggi lainnya. Seth adalah teman baik keluarga Seymour Duncan.

Impedansi
Impedansi adalah tingkat resistansi terhadap aliran arus listrik bolak-balik (alternating current). Dalam sebuah pickup pasif, tingkat impedansi bervariasi dengan frekuensi.

Milivolt

Satu milivolt setara dengan seperseribu volt (seperseribu dari satu volt). Sebuah output pickup bisa saja dinyatakan ukurannya dalam milivolt. Sebuah pickup pasif bisa punya tingkat output mulai dari 100 hingga 300 mV.

Ohm
Ohm adalah unit standar resistansi listrik. Sebuah resistansi D.C pickup biasanya diukur dalam satuan kilo ohm.

Phase
Phase(fasa) adalah hubungan dua bentuk gelombang suara berbanding dengan waktu

Out of Phase
Out of phase (diluar fasa) adalah pola hubungan (link) listrik dari dua coil atau dua pickup untuk meng-cancel sinyal secara parsial. Coba Anda bayangkan dua coil yang saling identik, salah satunya punya ground yang terbalik (polaritas listrik terbalik). Dengan wire pickup out of phase, biasanya akan meng-cancel frekuensi low. Hasilnya, suara yang keluar tipis dan terkesan rapuh.

Wiring Paralel
Wiring paralel adalah pola hubungan arus listrik dari dua coil dalam pola bersisian. Dibandingkan dengan yang berkonfigurasi seri, efek bunyi dari wiring paralel ini punya output 40 persen lebih rendah, tetapi clarity-nya lebih tinggi. Sebuah humbucker yang di-wire dalam pola paralel agaknya akan bersuara seperti sebuah single coil tanpa kehilangan kualitas hum-canceling-nya.

Polaritas
Polaritas adalah hubungan timbal-balik antara arus positif dan negatif

Pole Pieces Non Magnetik
Pole pieces bisa berarti masing-masing titik logam di permukaan bobbin sebagai penangkap getaran langsung dari dawai.
Pole pieces ada yang magnetic dan non magnetic. Non magnetic terbuat dari bahan besi belerang, serta bahan yang secara magnetis bersifat konduktif.
Pole pieces biasanya terbagi dua, yaitu yang bisa diatur dan ada yang tidak bisa diatur alias fix. Pole pieces yang bisa diatur akan lebih memungkinkan untuk mengatur masing-masing kedekatannya dengan dawai yang akan di-“pickup”-nya. Mendekatkan pole pieces ke dawai bisa menghasilkan medan yang lebih lebar. Ini nantinya akan memberikan output yang lebih tinggi, serta attack yang lebih agresif.

Pole Pieces Magnetik
Ini merujuk kepada sebuah pickup dimana axis dari magnet diarahkan langsung ke string dan pole pieces itu sendiri bertindak sebagai magnet. Ini banyak kita temukan di coil pickup single bergaya vintage, dimana magnet rod Alnico berperan sebagai pole piece.

Peak Resonan
Ini adalah frekuensi dimana impedansi dari pickup berada pada tingkat maksimal. Dari semua kategori pickup, sebuah peak resonan yang lebih tinggi daripada peak resonan lainnya biasanya akan memiliki suara yang lebih jernih dan lebih bright.

RW/RP
RW/RP merupakan kependekkan dari Reverse Wind/Reverse Polarity. Ini mengacu kepada polaritas magnetic dari sebuah pickup single coil dalam sebuah gitar yang memiliki dua atau tiga pickup. Contohnya jika pickup tengah dari sebuah gitar model Strato, maka dia adalah RW/RP. Kita akan mendapatkan hum cancellation saat menggunakan pickup itu secara simultan dengan pickup neck atau pickup bridge.
Wiring Seri
Ini adalah link listrik dua coil dalam pola serial untuk menghasilkan output lebih tinggi dan suara lebih bertenaga. Ini adalah wiring standar untuk pickup humbucking.

Splitting, Split pickup
Ini adalah dimana masing-masing coil dalam sebuah humbucker dipekerjakan secara terpisah. Dan sound yang dihasilkannya tentu saja sound single coil. Cara ini juga dikenal dengan men-’tapping’ sebuah pickup.

Stack
Adalah teknik yang telah dipatenkan oleh pabrikan Seymour W.Duncan,. Teknik ini menumpuk dua buah coil dalam sebuah pickup berpenampilan single coil. Hasilnya adalah untuk meredakan noise, tanpa mengubah tonality-nya.

Wax Potting
Ini adalah sebuah metoda dengan cara mensaturasi sebuah pickup dalam wax untuk menjaga coil dan semua bagian mekanik lainnya agar tetap rigid. Hal ini dilakukan untuk mencegah adanya feedback mikrofonik.

Terminologi / Istilah2 Fotografi

Bagian 3

Setelah bagian pertama dan bagian kedua, Bagian Ketiga dari serial Teknik Dasar Fotografi Digital ini akan membahas tentang terminologi2 atau istilah2 yang banyak dipakai dalam dunia fotografi
A : Singkatan dari auto, yaitu sebuah sandi untuk pilihan fasilitas otomatis. Artinya, bila selector diputar ke posisi ini, bukaan diafragma akan bekerja secara otomatis setelah pemotret memilih suatu kecepatan (shutter speed) atau sebaliknya.
AF : singkatan dari auto focus, yaitu cara kerja kamera tanpa mengharuskan pemotret memutar-mutar sendiri penemu fokus(jarak). Sistem ini bekerja setelah pemotret menekan tombol “on” pada perintah fokus.
AL servo AF : saran pilihan autofocus yang digunakan untuk memotret objek2 bergerak. Pilihan yang efektif untuk pemotretan olahraga.
Angle of view : Sudut pandang atau sudut pemotretan. Cara melihat dan mengambil objek yang akan difoto
Aperture diafragma : yaitu lubang tempat cahaya masuk kedalam kamera dari lensa keatas film.
Aperture priority auto exposure (A) : pencahayaan otomatis prioritas bukaan diafragma. Jika bukaan diafragma disetel terlebih dahaulu, kecepatan rana akan bekerja otomatis.
Artificial light : cahaya buatan manusia yang digunakan untuk memotret misalnya lampu kilat, api, dll.
Asa : singkatan dari american standar assosiation. Yaitu standar kepekaan film. Pengertiannya sama dengan ISO, hanya saja nama ASA dahulu umumnya dipakai diwilayah amerika. Kecepatannya diukur secara aritmatis.
Auto Program (P) : fasilitas otomatis untuk memilih pencahayaan terprogram secara normal dan high speed(kecepatan tinggi), tergantung pada pemakaian panjang-pendek fokus lensa.
Auto winder : motor yang berguna untuk memajukan film secara otomatis dan cepat tanpa harus dikokang atau diengkol terlebih dahulu. Sering digunakan oleh pemotret olahraga atau yang mengutamakan objek-objek bergerak cepat.
Back light : Cahaya dari belakang, yaitu cahaya yang berasal dari belakang objek. Arah cahaya ini berlawanan dengan posisi kamera. Secara umum efek yang dihasilkan dapat menciptakan siluet; objek foto dikelilingi “rim light” atau cahya yang ada disekitar objek. Efek cahaya ini bisa merugikan pemotret sebab bila mengenai lensa akan menimbulkan flare.
Bayonet : Sistem dudukan lensa yang hanya memerlukan putaran kurang dari 90 derajat untuk melakukan penggantian lensa.
Birds eye view : Sudut pandang dalam pemotretan yang mirip dengan apa yang diliat seekor burung yang sedang terbang.
Blitz : Lampu kilat atau flashgun. Alat ini merupakan cahaya buatan yang berfungsi menggantikan peran cahaya matahari dalam pemotretan. Untuk menangkap kilatannya diperlukan suatu kecepatan tertentu yang telah disesuaikan (disinkronkan) dengan kamera. Cahaya blitz umumnya bisa ditangkap dengan kecepatan kamera 1/60 detik.
Blitzlichtpulver : Cikal bakal lampu kilat. Terbuat dari beberapa campuran bubuk diantaranya magnesium dan potassium chlorade yang dapat memancarkan cahaya bila disulut.
Blur : Kekaburan seluruh atau sebagian gambar karena gerakan yang disengaja atau tidak sengaja pada saat pemotretan dan efek besar kecilnya diafragma. Hal ini terjadi misalnya saat melakukan teknik panning atau zooming yang menggunakan kecepatan rendah.
Bottom light : Cahaya dari bawah objek, biasa juga disebut ‘base light’. Biasa digunakan sebagai cahaya pengisi dari arah depan. Fungsinya mengurangi kontras cahaya utama.
Bounce Flash : Sinar pantul. Pancaran cahaya tidak langsung yang berasal dari sumber cahaya (lampu kilat). Cara paling efektif yang dapat dicoba adalah memantulkan pancaran sinarnya kesudut lain sebelum cahaya itu mengenai objek pemotretan. Teknik pencahayan ini cocok untuk menghasilkan penyinaran lunak.
Bracketing : Suatu teknik pengambilan gambar yang sama dengan memberikan kombinasi pencahayaan yang berbeda-beda pada suatu objek (disamping pengukuran pencahayan normal).
Built-in diopter : Pengatur dioptri (lensa plus atau minus)yang sudah terpasang pada pembidik kamera. Berguna bagi pemotret berkacamata.
Bulb, B(ulb) bolam : Sarana kecepatan rana yang sangat lambat dikamera yang digunakan untuk memotret objek. Lama membuka rana ditentukan oleh pemotret, yaitu dengan menekan lalu melepas tekanan pada tombol shutter.
C : Singkatan dari continuous, yaitu sandi yang terdapat pada kamera. Fungsinya menyatakan penggunaan bidikan gambar secara beruntun dengan kecepatan tertentu (umumnya 3 bingkai per detik).
Candid camera : foto atau potret yang dibuat dengan cara sembunyi2 sehingga objek foto tidak menyadarinya. Cara ini biasanya menghasilkan foto yang terkesan wajar atau alami. Umumnya tidak ada komunikasi antara pemotret dan objek foto. Keberhasilan foto sangat ditentukan oleh kemahiran pemotret mengungkapkan pesannya. Oleh Karena itu pemotret harus ekstra tekun, jeli, teliti dan sabar.
CCD : singkatan dari charge couple device, yaitu chip pengganti film yang digunakan pada kamera digital untuk merekam gambar (citra)
Center of focus : pusat perhatian. Sering juga disebut center of interest atau focus of interest. Pusat perhatian membuat pesan dan teknis yang ingin disampaikan pemotret tergambar secara fisik pada foto.
Center weight : pengukuran pencahayaan yang tertuju hanya pada 60 persen daerah tengah gambar (bidang) foto.
Coating : pemberian suatu lapisan tipis pada permukaan lensa, fungsinya menahan pantulan cahaya dan melindungi lensa dari berbagai bahaya, misalnya jamur.
Cold tone : warna yang bernada dingin; berwarna biru kelabu dengan nada warna ringan.
Color balance : keseimbangan warna.
Composition : komposisi, yaitu penempatan atau penyusunan bagian2 sebuah gambar untuk membentuk kesatuan dalam sebuah bidang tertentu sehingga enak dipandang.
Continuous light : lampu kilat yang digunakan untuk memotret; cahayanya dapat menyala terus menerus (berulang-ulang).
Contrast : kontras. Secara umum kontras diartikan sebagai perbedaan gradasi, kecerahan, atau nada (warna) antara bidang gelap (shadow) dengan bidang terang, atau warna putih yang mencolok sekali pada objek.
Cropping : pemadatan/pemotongan gambar dalam foto atau sesuatu yang tercetak dengan membuang bagian2 tertentu yang kurang dikehendaki.
Density : densitas atau kepekatan dalam fotografi. Istilah ini menyatakan tebal-tipis lapisan perak yang melekat pada film. Semakin pekat suatu warna, semakin gelap dan berat warnanya.
Depth : kedalaman, yaitu efek dimensional yang timbul karena ada perbedaan ketajaman.
Depth of field : bagian yang tampak tajam (tidak buram) dan jelas, yang berada dalam jangkauan tertentu. Biasanya juga disebut sebagai ruang tajam.
Diapfraghm : diafragma, yaitu lubang pada lensa kamera tempat cahaya masuk saat melakukan pemotretan. Lubang lensa ini dibentuk dari kepingan2 logam tipis yang berada didalam atau dibelakang lensa. Bisa diciutkan atau dilebarkan.
Distortion : distorsi, yaitu penyimpangan bentuk. Pada fotografi biasa terjadi pada pemotretan dengan lensa sudut lebar.
Fill in Flash : Lampu kilat pengisi. Dalam kondisi pemotretan yang tidak memerlukan lampu kilat, lampu ini tetap dinyalakan untuk menerangi bagian-bagian gelap dari objek, misalnya bayangan pada pemotretan diluar ruangan.
Film : Media untuk merekam gambar. Gambar dibuat diatas dasar yang fleksibel dan transparan. Film terdiri dari lapisan tipis yang mengandung emulsi peka cahaya, diatas dasar yang fleksibel dan transparan. Emulsi sendiri terdiri dari perak halida, yaitu senyawa yang peka cahaya.
Film Frame Counter : Penghitung jumlah bingkai film. Pendeteksi berangka yang menunjukkan jumlah film yang sudah terpakai.
Film transparency : Slide warna atau color reversal film, yaitu film positif yang biasa digunakan untuk keperluan iklan, pers, dll. Tujuannya adalah mendapatkan ketajaman dan warna gambar yang baik.
Filter : Penyaring dalam bentuk kaca (atau bahan lain yang tembus cahaya) yang mempunyai ketebalan rata; dipasang pada ujung tabung lensa.
Fix Lens : Lensa fix, yaitu lensa yang memiliki panjang fokus (titik api) tunggal, sudut pandangnya tetap.
Flash : Lampu kilat, yaitu jenis lampu buatan yang mampu menyediakan cahaya yang bisa dikendalikan.
Flash exposure compensation : Kompensasi pencahayaan lampu kilat, yaitu cara membuat alternatif pencahayaan lebih atau kurang dengan menggunakan lampu kilat.
Focus ring : Titik api atau pertemuan berkas sinar/cahaya melalui lensa setelah berbias atau dipantulkan.
FPS : singkatan dari frame persecond, yaitu satuan pengambilan gambar dalam gambar per detik.
GN : Singkatan dari guide number, yaitu kekuatan daya pancar cahaya lampu kilat yang merupakan perkalian antara jarak (dalam meter atau feet) dan diafragma.
High angle : pandangan tinggi. artinya, pemotret berada pada posisi yang lebih tinggi dari objek foto.
High-Key photo : sebutan untuk suatu foto yang didominasi nuansa putih.
High light : bagian-bagian yang terang pada sebuah foto karena pantulan sinar.
Honeycomb : Perangkat atau alat tambahan berbentuk seperti sarang tawon.
Hot shoe : sepatu panas. terdapat pada bagian atas kamera, berfungsi untuk memasang lampu kilat elektronik.
Image : gambar yang terbentuk pada film atau pada tirai pengamat.
Incident light metering : Pengukuran cahaya jatuh, yaitu mengukur kuat cahaya yang menerangi objek.
Infinity : jarak tak terhingga dengan tanda pada skala jarak.
Infrared : inframerah, yaitu sinar merah diluar spektrum.
ISO : singkatan dari international standart organization, yaitu badan yang berwenang memberikan standar untuk kategori film yang digunakan didunia fotografi.
JIS : singkatan dari japan industrial standart, yaitu ukuran kepekaan film, seperti asa digunakan di Jepang.
Lens : Lensa, yaitu alat yang terdiri dari beberapa cermin yang mengubah benda menjadi bayangan yang bersifat terbalik, diperkecil, dan nyata.
Lens Hood : Tudung lensa yang digunakan untuk menutupi elemen lensa terdepan dari cahaya yang masuk secara frontal. Cahaya seperti ini akan menimbulkan efek flare (bintik cahaya putih) pada foto.
Light contrast : Kontras cahaya, yaitu tingkat kepekaan cahaya yang dihasilkan oleh suatu sumber cahaya. Hal yang paling mempengaruhi kontras cahaya adalah besar kecilnya sumber cahaya.
Light meter : Pengukur kekuatan sinar. Biasa dipakai dalam pemotretan untuk menentukan besar diafragma atau kecepatan pada suatu kondisi pencahayaan.
Long Shot : Sudut pandang yang lebar yang memberi perhatian lebih pada objek pemotretan dengan cara memisahkannya dari latar belakang yang mungkin mengganggu.
Low angle : Pandangan rendah, yaitu sudut pandang dalam pemotretan dengan kedudukan pemotret lebih rendah dari objek pemotretan. Menghasilkan gambar seolah-olah objek lebih tinggi dari aslinya.
LT : Long time Exposure, sama dengan pencahayaan panjang misalnya 2 detik atau lebih.
Macro : Makro. Pengertian makro dalam fotografi adalah sarana untuk pemotretan jarak dekat. Fotografi makro akan menghasilkan rekaman objek (pada film) yang sama besar dengan objek aslinya (1:1), atau paling tidak setengah besar objek aslinya (1:2). Namun, lensa zoom yang mempunyai fasilitas menghasilkan rekaman objek seperempat besar benda aslinya (1:4) juga sudah bisa dikatakan makro.
Macro Lens : Lensa makro, yaitu lensa yang digunakan untuk memotret objek berukuran kecil atau pemotretan jarak dekat (mendekatkan objek). Umumnya dipakai untuk keperluan reproduksi karena dapat memberikan kualitas prima dan minim distorsi.
Magnification : Pembesaran. Diukur dari gambar film dengan perbandingan ukuran asli objek.
Main light : Sinar utama dalam pemotretan yang biasanya berasal dari depan objek. Biasanya digunakan untuk memunculkan bentuk atau wajah objek.
Medium format camera : Kamera format medium, yaitu jenis kamera SLR yang menggunakan jenis film 120 mm. Dibandingkan dengan kamera format kecil, kamera ini mempunyai keunggulan dalam pembesaran cetakan.
Medium shoot : Pandangan yang lebih mengarah kepada suatu tema pokok dengan latar belakang yang agak dihindari. Bisa digunakan untuk pemotretan berobjek orang, kira2 sebatas pinggul keatas.
Metering : Pola pengukuran cahaya yang biasanya terbagi dalam 3 kategori : center, weight, evaluative/matrix dan spot
Metering center weight : Pola pengukuran cahaya menggunakan 60 persen daerah tengah gambar
Metering matrix : Pola pengukuran cahaya berdasarkan segmen-segmen dan persentase tertentu
Metering spot : Pola pengukuran cahaya yang menggunakan satu titik tertentu yang terpusat.
MF : singkatan dari manual focus, yaitu cara penajaman atau pemfokusan yang dilakukan secara manual.
Microphotography : Fotografi yang menggunakan film berukuran kecil, dengan bantuan mikroskop.
Monopod : sandaran atau penyangga kamera berkaki satu. Berfungsi membantu menahan kegoyangan. Sering pula disebut “unipod”
ND Filter : Filter ND, yaitu filter yang berfungsi menurunkan kekuatan sinar sebanyak 2 sampai 8 kali.
Nebula Filter : Filter yang menghasilkan gambar dengan efek pancaran sinar radial yang berpelangi.
Non-reflex camera : kamera non refleks yang tidak menggunakan cermin putar. Contohnya adalah kamera kompak atau kamera langsung jadi (Polaroid)
Normal lens : Lensa berukuran normal berfokus panjang, 50 mm atau 55 mm, untuk film berukuran 35 mm. Sudut pandangnya sama dengan sudut pandang mata manusia.
Obscura : Cikal bakal kamera zaman sekarang. Prinsipnya dalam sebuah kamar gelap yang tertutup lubang (pin hole). Jika kamera obscura dihadapkan ke benda yang diterangi cahaya, sebuah gambar proyeksi terbalik dari benda tersebut akan tampak pada dinding yang berhadapan dengan lubang.
Optical Sharpness : ketajaman optis, yaitu suatu ketajaman yang dapat dicapai karena lensa berkualitas baik.
Optik : berkenaan dengan penglihatan (cahaya, lensa, dsb)
Over exposure : kelebihan pencahayaan. Bagian shadow tampak pekat (tanpa detail) sehingga negative tampak hitam total. Bila kepekatan bagian ini melampaui batas, hasil cetak foto akan menjadi abu2; bagian high akan menjadi putih.
Overhead lighting : sinar dari atas. Lampu atau penyinaran yang dibuat untuk menyinari objek dari atas.
Override : Penyimpangan dari pengaturan otomatis. Tujuannya agar pemotret dapat mengatur kamera secara manual.
POLARIZING COLOR FILTER : Filter yang terdiri dari selembar polarisator kelabu dan polarisator warna, terdapat berbagai kombinasi warna sehingga dapat digunakan untuk efek-efek tertentu.
POLARIZING CONVERSION FILTER : Filter terdiri dari selembar polarisator dengan filter konversi warna (85B). Biasanya juga digunakan untuk jenis kamera kine, sehingga memungkinkan film tungsten digunakan untuk cerah hari dan mempunyai efek seperti filter polarisasi.
POLARIZING FIDER FILTER : Filter yang terdiri dari dua filter PL linier yang digabung menjadi satu. Jumlah filter yang masuk dapat diatur dengan memutar gelang filter.
POLARIZING CIRCULAR FILTER : Filter yang dibuat dari lembaran polarisator linier dan keeping quarter wave retardation, dilapi di antara dua gelang filter. Efeknya sama dengan filter polarisasi, biasanya digunakan untuk kamera kine.
POLARIZING FILTER : Filter polarisasi, dipakai untuk menghilangkan refleksi dari segala permukaan yang mengkilap. Filter ini terdiri dari dua bagian, bagian yang satu dengan lain dapat diputar-putar untukmendapatkan sudut paling ideal menghilangkan refleksi, menambah saturasi warna dan menembus kabut atmosfer. Juga berguna untuk membirukan langit.
POP UP FLASH : Lampu kilat kecil terbuat atau menyatu dengan kamera.
RAINBOW FANTASI FILTER : Filter dengan inti bulatan normal dan sisanya berisi prisma. Tiap-tiap berkas sinar akan bertepi pelangi.
RANA : Adalah tirai yang menggantikan fungsi penutup manual di bagian depan lensa, besar kecilnya dapat diatur sesuai kebutuhan.
RANA CELAH : Rana celah vertical dan horizontal dan terletak pada kamera. Yang vertial menutup secara vertikal dan yang horizontal menutup secara horizontal.
RANA PUSAT : Rana yang terletak pada lensa, berdampingan dengan diafragma. Menutupnya dengan cara memusat.
RELEASE CABLE : Kabel penghubung dengan shutter sehingga memungkin pemotret menekan shutter dari jarak beberapa meter dari kamera.
RELOADABLE TO LAST FRAMER : Fasilitas untuk mengembalikan film yang telah digulung di tengah posisi terakhir yang terpakai.
REMBRANDT LIGHTING : Cahaya yang berasal dari jendela atau sering juga disebut window lighting. Cahaya yang datang dari sudut 45 derajat. Pencahayaan tersebut berasal dari nama pelukis Belanda Rembrandt.
REMOTE : Alat yang memungkinkan fotografer melakukan penekanan shutter dari jarak jauh dengan penghubung arus tanpa kabel.
RESOLUTION : Daya pisah. Suatu sifat lensa yang berdaya urai dengan kemampuan menyajikan detail kehalusan gambar sesudah film dikembangkan (diproses).
RETINA : Selaput peka sinar dari mata atau salah satu merek kamera keluaran kamera.
RETOUCH : Mengubah, sifatnya memperbaiki atau menambah warna dengan menggunakan tangan atau kuas, atau juga pada masa ini dengan komputer seperti melukis sehingga menghasilkan gambar yang baik dan tanpa cacat seperti sebelumnya.
REVERSE ADAPTER : Suatu alat penyambung yang digunakan untuk memotret saat menggunakan lensa kamera yang dibalik sehingga elemen belakang lensa menghadap ke objek. Dengan alat ini menjadikan kita dapat menggunakan lensa biasa untuk membuat pemotretan makro dengan hasil yang cukup baik.
SECOND CURTAIN SYNC : Fasilitas untuk menyalakan lampu-kilat sesaat sebelum rana menutup.
SELF ADJUSTING : Penyesuaian (diri).
SELF TIMER : Penangguh waktu. Sebuah tuas yang digunakan untuk keperluan memperlambat membukanya rana kamera sekalipun tombol pelepas kamera telah ditekan. Biasanya digunakan untuk memotret diri sendiri. Penangguhan waktunya umumnya berkisar 10 detik.
SENSE OF DESIGN : Perasaan atas komposisi. Estetika dalam nirmana datar warna.
SEPIA TONER : Pewarna coklat/sawo.
SEQUENCE : Sekuen. Satu seri dari beberapa jepretan (shot) yang meliputi suatu kejadian yang sama. Setiap jepretan hanya berbeda dalam hitungan detik.
SHADE : Teduh, bayangan yang tak berbentuk.
SHADOW : Bidang gelap/hitam atau bayangan pada sebuah foto yang berbentuk objek yang membayang.

SHAPE : Bidang, suatu bentuk dalam aspek dua dimensi yang terjadi tidak hanya oleh karena adanya kesan garis, baik berupa segi tiga, lingkaran, elips, dll. Namun selain itu bisa juga dibentuk oleh suatu bidang warna karena adanya suatu kesan bentuk tiga dimensi yang mempunyai volume.
SHARPNESS : Ketajaman film, yaitu suatu kemampuan film untuk merekam setiap garis dari pandangan yang dipotret dengan ketajaman yang baik. Ketajaman ini ditentukan dengan jumlah garis per milimeter.
SIDE LIGHT : Cahaya dari samping, yaitu cahaya yang berasal dari arah samping objek, baik kiri atau kanan dan dapat ditempatkan pada sudut 45 atau 90 derajat. Pencahayaan seperti ini menghasilkan foto dengan efek yang menonjol permukaan atau objek fotonya serta terciptanya kesan tiga dimensional. Umumnya digunakan untuk menampilkan foto-foto yang berkarakter, misalnya foto potret (portrait).
SIDE LIGHTING : Sinar dalam pemotretan yang datangnya dari arah samping kanan atau kiri – 90 derajat dihitung dari sudut pandang kamera. Arah datangnya sinar seperti ini akan menghasilkan foto dengan detail dan tekstur dari benda dengan baik. Bayangan yang dihasilkan akan menampakkan bentuk benda dengan lebih menarik dengan separo dari muka terang dan separo lagi gelap.
SINGLE LENS REFLECT : Refleks lensa tunggal (RLT), adalah kamera yang memiliki satu lensa untuk membidik yang menggunakan cermin dan prisma. Lensanya berfungsi untuk meneruskan bayangan objek ke pembidik dan meneruskannya ke film. Apa yang terlihat pada jendela pengamat sama seperti apa yang terjadi pada film atau fotonya.
SINGLE POINT READING : Suatu pembacaan pengukuran dalam pencahayaan yang dilakukan hanya pada satu titik atau bagian tertentu yang terpenting dari sebuah objek foto.
SINGLE SERVO AUTOFOCUS (S) : Sandi saat Anda membidikkan suatu objek dan tombol rana telah tertekan separo, maka jarak antara kamera dengan objek terkunci hingga tombol dilanjutkan ditekan hingga terekam satu bidikan.
SKALA : Perbandingan objek utama dengan objek-objek lain dalam gambar.
SLAVE UNIT : Mata listrik yang menyalakan lampu-kilat karena pulsa yang dihasilkan oleh menyalanya lampu-kilat lain.
SMALL FORMAT CAMERA : Kamera format kecil yaitu kamera jenis SLR (Single Lens Reflect) yang menggunakan film berukuran 35 mm namun fleksibel dan enak dipegang serta ringan. Karena itu kamera seperti ini yang paling banyak digunakan oleh para fotografer. Jenis maupun ukuran filmnya sangat mudah didapat juga proses filmnya terutama bagi yang menggunakan film jenis negatif. Namun kekurangannya, untuk hasil pencetakan besar, maksimal hanya seukuran majalah.
SNAPSHOT : Bidikan spontan, tanpa modelnya diatur terlebih dahulu. Cara ini umumnya digunakan untuk membuat foto human interest, sehingga menghasilkan foto yang apa adanya dan tampak alami tak terkesan dibuat-buat.
SNOOT : Suatu alat berbentuk kerucut yang berlubang pada ujungnya dan digunakan untuk memperkecil penyebaran cahaya dari lampu kilat studio. Umumnya menghasilkan cahaya yang tampak membulat bila diproyeksikan pada bidang datar.
SNOW CROSS, STAR SIX FILTER : Sebuah kaca bening dengan goresan-goresan yang saling bersilangan yang membentuk bintang-bintang berekor enam dari tiap-tiap titik sinar.
SOCKET : Lubang tempat memasukkan kabel sinkron yang menghubungkan lampu kilat dengan penutup.
SOFT SCREEN (LENS) : Lensa yang berguna untuk menghindari kontras sehingga hasil gambar terkesan seolah-olah agak kabur dengan sisi-sisi yang tak tampak ketegasan batasnya.
SOFT FOCUS LENS : Lensa yang berdaya lukis lembut.
SOFT SPOT FILTER : Filter berciri seperti soft screen namun menghasilkan gambar yang berbeda.
SOFT TONE FILTER : Filter yang bertujuan untuk membuat gambar pemandangan lunak tanpa menurunkan ketajaman dan mengubah warna, juga tidak mengubah bentuk. Kontras pun menjadi lembut tanpa mengaburkan pandangan.
SOLARISASI : Proses pembuatan foto dengan cara memberi penyinaran dua kali pada kertas foto atau film dan memasukkannya ke dalam larutan pengembang. Di tengah-tengah gambar terbentuk dilakukan penyinaran dengan cahaya putih sekali lagi dan meneruskan pengembangannya.
SONAR AUTOFOCUS : Sistem otofokus yang bekerja berdasarkan perjalanan bolak-balik suara sonar – dari kamera ke objek kembali ke kamera.
SPECIAL EFFECT : Efek khusus dengan menggunakan teknik tertentu.
SPECIAL EFFECT FILTER : Filter (penyaring) spesial efek yang pada dasarnya bukan filter karena fungsinya tidak menyaring sesuatu melainkan mengubah pandangan guna mencapai hasil yang menyimpang dari pemotretan biasa.
SPECIAL LENS : Lensa spesial yang digunakan secara khusus untuk keperluan khusus. Misalnya fish eye lens (lensa mata ikan – 180 derajat). yang pada dasarnya bukan filter karena fungsinya tidak menyaring sesuatu melainkan mengubah pandangan guna mencapai hasil yang menyimpang dari pemotretan biasa.
SPECIAL PURPOSE LENS : Lensa tujuan khusus yang didesain dan diciptakan untuk tujuan penghasilan gambar khusus yang biasanya susah dilakukan dengan lensa biasa.
SPECIAL FILTER : Sekeping plastik terang berisi ribuan prisma lembut yang mengubah tiap-tiap titik sinar menjadi bintang pelangi dan berkas sinar bertepi pelangi. Sinar yang kuat membentuk bintang dengan berkas-berkas pelangi tebal.
SPECTRUM : Berkas sinar yang terlihat oelh mata, terpecahkan oleh pembiasan prisma dalam warna-warni.
SPEEDLIGHT : Lampu-kilat yang mempunyai kecepatan menyala tinggi atau cepat.
SPEEDO SOLARISASI : Suatu teknik kamar gelap versi lain dari tehnik solarisasi (efek sabattier) pada film ortholith yang akan memberikan suatu efek gerakan yang cepat (speedo).
STEREO CAMERA : Kamera berlensa dua yang menghasilkan dua foto sekaligus. Dua foto itu harus diamati dengan alat bantu atau stereo-viewer untuk mendapatkan efek kedalaman seperti saat difoto.
STILL LIFE : Berarti lukisan atau pemotretan benda mati. Fotografi yang khusus menempatkan benda-benda kecil buatan manusia sebagai objeknya.
STOP : Satuan yang menunjukkan pergeseran nilai bukaan diafragma atau kecepatan rana dari suatu nilai ke nilai yang lain, naik atau turun. Misalnya dari diafragma f:16 ke f:22 atau dari kecepatan 1/125 detik ke 1/250 detik.
STOP BATH : Cairan penyetop. Larutan penyetop untuk menghentikan atau menahan seketika pengembang (developer) pada film atau kertas foto. Selain berguna untuk menghentikan proses yang terjadi, stop bath juga berfungsi sebagai larutan fixer yang membuat film dan cetakan foto lebih tahan lama.
STRIPPING FILM : Film yang dapat dipisahkan dari dasar seluloidnya.
STROBO : Lampu dengan kemampuan menyorot bertubi-tubi dengan selang waktu singkat.
SUBTRACTIVE : Sistem penyusunan balans warna dengan mengurangi unsure warna, suatu kebalikan dari additive atau menambahkan.
SUPER WIDE LENS : Lensa bersudut super lebar yang biasa digunakan untuk pemotretan arsitektur, interior, eksterior, pemandangan, dll. Misalnya lensa 15 mm, 17 mm.
SYNC CORD TERMINAL : Terminal sinkronisasi lampu-kilat; soket untuk memasang kabel tambahan yang dihubungkan dengan lampu-kilat.
SYNC SHUTTER SPEED : Kecepatan rana yang sinkron dengan lampu kilat.
SYNCRO : Saklar otomatis. Dengan menggunakan saklar ini pada lampu kilat maka bila ada kilatan cahaya lampu kilat lain akan mengakibatkan menyalanya lampu kilat yang terpasang syncro.
TABLE-STAND : Kaki tiga (tripod) kecil. Sandaran kamera yang membantu menahan goyang yang dipakai di atas meja.
TEXTURE : Tekstur, sifat permukaan atau sifat bahan., merupakan elemen seni visual yang sangat penting karena mampu memberi kesan “rasa” seperti halus, kasar, mengkilat, dll.
TELE CONVERTER : Lensa tambahan yang dipasang di antara lensa asli dan tubuh kamera, yang dapat mengubah lensa normal menjadi tele dan lensa tele menjadi tele panjang. Umumnya kelipatannya dua atau tiga kali jarak fokus lensa asal.
TELE LENS : Lensa tele yang digunakan untuk memperbesar objek yang akan difoto. Lensa ini dapat digunakan untuk memperoleh ruang tajam yang pendek. Khusus untuk pemotretan potret (portrait) penggunaan lensa seperti ini akan menghasilkan perspektif wajah yang mendekati aslinya. Misalnya: lensa 85 mm, lensa 135 mm, lensa 200 mm, dll.
TELEPHOTO LENS : Lensa telefoto, lensa yang mempunyai fokus panjang. Pembuatan bayangan (image) pada lensa telefoto lebih pendek bila dibandingkan dengan lensa lain.
TELEPHOTO MEDIUM : Telefoto menengah, jenis lensa telefoto yang mempunyai panjang antara 75 – 135 mm.
TEST STRIP : Suatu cara untuk mendapatkan hasil cetakan yang baik (normal) yang dilakukan dengan cara membuat pencahayaan bertingkat pada saat mencetak sebelum mencetak sesungguhnya.
TILT HEAD : Kemampuan kepala lampu-kilat untuk dapat diputar. Fungsinya untuk mendapatkan efek pencahayaan yang lembut dengan cara memantulkan terlebih dahulu cahaya yang keluar dari lampu-kilat. Kuatnya cahaya yang jatuh ke objek sangat bergantung pada permukaan pemantul, warna dan jaraknya.
TIMER SWITCH : Pengukur waktu yang akan memutuskan aliran listrik pada akhir hitungan yang telah ditentukan.
Top Light : Cahaya (dari) atas. Cahaya yang berasal dari atas objek. Biasanya digunakan untuk menerangi bagian atas kepala model yang akan difoto. Arah cahaya juga dapat menampilkan detail benda.
Transparan : Tembus pandang ialah permukaan suatu benda yang tidak menghambat pandangan untuk melihat benda di belakangnya. Kaca dan plastik misalnya bersifat tembus pandang.
Translusen : Tembus sinar. Namun kita tidak biasa melihat benda yang berada di belakang benda yang translusen tersebut. Misalnya kaca es, kaca buram, kaca susu, plastik suram, dsb.
Transparancy : Transparan, gambar tembus, slide atau film positif.
Tripod : Kaki-tiga. Suatu alat yang digunakan untuk menyangga kamera yang berbentuk kaki-tiga, yang dapat dipanjangkan dan dipendekkan sesuai keinginan (terbatas). Biasa digunakan untuk membantu mengatasi goyang saat melakukan pemotretan yang menggunakan lensa telefoto, atau yang menggunakan kecepatan rendah sehingga kedudukan kameranya tetap stabil dan pemotretan terhindar dari goyang.
Tripod Socket : Tempat (ulir) untuk tripod. Suatu bagian di kamera, biasanya berlubang dengan ulir di dalamnya, yang berguna untuk tempat memasang tripod atau kaki-tiga kamera.
TTL : Singkatan dari Through the Lens Metering. Sistem pengukuran cahaya melalui lensa. Biasa juga disebut OTF (Off the Film Metering). Kamera harus terisi film untuk mendapatkan pengukuran yang akurat. Atau dengan cara lain yaitu menggantikannya dengan kertas buram yang diletakkan pada jendela lintas film yang harus menutupi seluruh jendela tersebut. Jika tidak maka akan mendapatkan kalkulasi pengukuran yang salah karena sensor di dalam kamera akan membaca pelat hitam penekan film.
Tungsten Film : Film yang khusus diperuntukkan bagi pemotretan yang dilakukan dengan cahaya buatan dengan lampu biasa atau photo-flood, namun juga tetap dapat dipakai untuk pemotretan di bawah cahaya alami.
Twin Lens Reflex :Refleks Lensa Kembar. Kamera yang mempunyai dua lensa. Satu lensa berfungsi untuk menangkap objek yang dipantulkan oleh cermin melalui jendela pembidik, satu lensa berfungsi untuk menangkap objek untuk diteruskan ke film. Menggunakan jenis kamera seperti ini harus ekstra hati-hati karena sering terjadi kesalahan yang disebut paralaks pada pemotretan jarak dekat.
VARIO FOCAL LENS : Lensa zoom. Lensa yang mempunyai panjang focus yang dapat diubah-ubah atau dapat bergeser. Misalnya: lensa 20-35 mm, lensa 35-70 mm, lensa 80-200 mm, dsb.
VARIO LENS : Lensa vario atau sering disebut sebagai lensa zoom. Yaitu sebuah lensa yang memiliki jangkauan panjang focus yang bervariasi atau dapat diubah-ubah. Dengan demikian memudahkan pemotret memilih berbagai ruang pandang hanya dengan menarik-ulur lensa atau memutarnya.
VERTICAL GRIP : Alat pelepas rana untuk pengambilan gambar secara vertikal tanpa harus memutar tangan.
VIEW CAMERA : Kamera yang menggunakan film format besar dan digunakan untuk keperluan pemotretan yang memerlukan detail tajam pada pencetakan hasil foto yang besar-besar umumnya digunakan di dalam studio untuk pemotretan still life karena dapat menyempurnakan perspektif serta menambah ruang tajam. Detail gambar dapat ditampilkan secara sempurna.
VIEW FINDER :  jendela bidik. Bagian dari kamera yang berfungsi sebagai tempat mata melihat bayangan benda yang akan diabadikan.
WAIST LEVEL FINDER : Pembidik sebatas pinggang.
WARM TONE : Bernada warna hangat. Suatu warna yang terasakan tidak terlampau menyilaukan mata, atau berwarna ke arah cokelat gelap ke arah hitam pekat.
WATT/SECOND (W/S) : Satuan daya pada lampu kilat studio yang dibedakan dengan lampu kilat portable yang menggunakan GN. Tidak ada rumusan relevansi antara W/S dan GN, tapi 100 W/S hampir sebanding dengan GN = 30.
WIDE ANGLE LENS : Lensa sudut lebar, misalnya lensa 20 mm atau 24 mm. Jenis lensa dengan tubuh pendek yang biasa digunakan untuk memotret sebuah panorama luas atau untuk pemotretan sejumlah besar orang. Lensa ini menampakkan gambar yang lebih kecil.
WIDE SHOT : Pemotretan dengan sudut pandang lebar. Biasanya merupakan satu jepretan panjang diawal suatu sekuen. Tujuannya untuk mengarahkan penonton pada adegan berikutnya pada gambar hidup (movie).
WIRELESS TTL : Sistem pengukuran lewat lensa tanpa melalui kabel.
WORM EYE : Pandangan cacing. Berarti memotret dari sudut pandang permukaan tanah. Hasilnya adalah rekaman foto dengan kesan tinggi yang ekstrim, hasil gambarnya pun unik karena sudut pandang seperti itu.
ZONE SYSTE : Suatu cara untuk menghasilkan foto dengan tingkat kontras yang dimulai dari nada hitam pekat hingga nada warna putih sekali.
ZOOM LENS : Lensa zoom. Jenis lensa yang memiliki elemen yang mampu bergerak hingga membuat panjang fokal bervariasi. Panjang focus dapat diganti-ganti dengan memendekkan atau mengulur tabung lensa.
ZOOM-BLUR : Kekaburan gambar yang disebabkan oleh gerakan zoom pada waktu melepas rana kamera.
ZOOMING RING : Gelang batas rentang vario pada lensa zoom.

Akhirnya terselesaikan juga kamus ini, yaa…walaupun disertai dengan pusing, capek mata lelah dll,tapi mudah-mudahan bisa memberi manfaat, artikel berikutnya dari serial teknik dasar fotografi digital adalah mengenal lebih jauh tentang blitz / flash light.

ditunggu aja ya….

Teknik Dasar Fotografi Digital

Bagian 1 – Shutter Speed

Fotografi digital memudahkan kita memahami dunia fotografi, hasil jepretan langsung bisa di review melalui jendela LCD, sehingga kita bisa mengevaluasi hasil jepretan, karena data teknis yg berkaitan dengan Jepretan tadi terlihat dan terekam, berbeda dengan Fotografi Konvensional, dimana kita harus mencetaknya dulu baru dapat melihat, me-review dan mengevaluasi hasil jeperetan, data teknis-nya pun kita harus mencatatnya terlebih dahulu, sehingga butuh banyak biaya dan waktu yg terbuang untuk bisa memperbaiki kemampuan fotografi kita

Seni Fotografi bisa diibaratkan sebagai melukis dengan cahaya, dalam hal ini kamera dan Lensa yang menggantikan peran kuas dan cat. Ada dua hal yg memegang peranan terpenting dalam kamera dan lensa, yaitu Shutter Speed dan Aperture

Shutter Speed adalah lamanya waktu yg diperlukan untuk menyinari sensor CMOS atau CCD pada kamera digital, dan Film pada kamera konvensional. Pada Kamera tertera angka-angka 250, 125, 60, 30, 15 dst. Ini berarti lamanya penyinaran adalah 1/250 detik, 1/125 detik, 1/60 detik, dst.

Semakin besar angkanya berarti semakin cepat waktu yg digunakan, hal ini akan menciptakan efek diam (freeze), misalnya kita akan memotret objek yg sedang bergerak, misal mobil, dengan efek diam, kita memerlukan setidaknya shutter speed diatas 1/125 detik

Sebaliknya bila kita akan memotret objek tersebut dengan efek bergerak, maka dibutuhkan shutter speed kurang dari 1/125 detik, sebaiknya dilakukan dengan cara mengikuti arah gerak objek, hal ini disebut teknik panning,

Dua hal diatas tergantung juga dari kecepatan objek tersebut bergerak, semakin cepat objek bergerak, berarti semakin tinggi shutter speed yg dibutuhkan agar memperoleh efek diam atau bergerak yang kita inginkan, Perlu diperhatikan, semakin rendah shutter speed, akan mengakibatkan semakin besar juga kemungkinan terjadinya camera shaking, yg akan mengakibatkan hasil jepretan menjadi goyang dan tidak tajam

Agar aman, gunakan shutter speed diatas 30 atau 1/30 detik, kalau memang menginginkan shutter speed lebih rendah, misal 1/15 detik, 1/8 detik atau yg lebih rendah, gunakan penyangga alias tripod

Bagian 2 – Aperture dan ISO

Setelah membahas Shutter Speed pada bagian pertama artikel ini, Elemen lain yg tidak kalah penting dalam fotografi adalah Aperture. Aperture Adalah ukuran bukaan lensa yang berfungsi memasukkan dan meneruskan cahaya ke film atau sensor. ukuran besar kecilnya diatur melalui diafragma. Pada kamera umumnya tertera 2,8; 4; 5,6 dst. angka2 tersebut dikenal sebagai f-number, jadi disebut aperture (bukaan) f/2,8; f/4; f/5,6 dst. Semakin besar aperture semakin kecil f-numbernya dan semakin kecil pula diameter bukaannya, jadi f/16 lebih kecil diameternya daripada f/5,6
Cara kerja aperture mirip pupil pada mata manusia, semakin banyak cahaya yang masuk, semakin kecil diameter pupil, begitu pula sebaliknya. Aperture sangat berhubungan dengan ruang tajam atau depth of field, semakin besar f-number, misal f/22, rentang ketajaman akan semakin lebar. Artinya objek di belakang dan di depan fokus utama memiliki ketajaman yang baik. sebaliknya kita akan mendapatkan efek blur/buram untuk objekdi depan dan dibelakang fokus utama jika menggunakan f-number kecil, misal f/2,8

Shutter speed dan aperture harus bersinergi untuk mendapatkan exposure yang tepat. Peranan ISO juga penting, semakin tinggi ISO yang digunakan, maka kepekaan terhadap cahaya pun makin besar, sehingga pada pencahayaan kurang pun, shutter speed maupun aperture masih dapat digunakan secara maksimal. Tapi perlu diingat, semakin tinggi ISO yang digunakan, akan semakin tinggi tingkat noise ataupun grain yang dihasilkan

Untuk mengetahui apakah exposure sudah tepat atau belum, pada kamera digital atau konvensional tersedia fasilitas metering, sehingga terjadinya over exposure (kelebihan pencahayaan) atau under exposure (kekurangan pencahayaan) dapat diminimalkan.

Setelah teknik dasar dapat dikuasai, berikutnya yg dibutuhkan adalah jam terbang, karena seni fotografi identik dengan momen, dan momen yg baik tidak mudah terulang, kepiawaian menentukan komposisi dan sudut ambil gambar dapat berkembang seiring jam terbang, kemudian perbanyak referensi dari, buku, internet, maupun sumber2 lain. Bagaimana bagus dan canggihnya sebuah kamera, hanya merupakan sebuah alat, yg menentukan adalah orang yg berada di belakang kamera

bersambung……